Jadilah Garam dan Terang Dunia

Minggu, 8 Februari 2026 – Hari Minggu Biasa V

10

Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.”

***

Bacaan Injil hari ini mengundang kita untuk menjadi saksi Kristus dengan dua cara yang berbeda, yang terlihat seperti bertolak belakang, yaitu garam dan terang. Garam, ketika sudah dicampurkan dalam makanan, tidak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan, dapat dicicipi, dan dapat dinikmati. Ada banyak orang yang “hampir tidak dapat dirasakan” karena mereka adalah “orang biasa” yang bekerja dan berbuat baik sepanjang waktu. Namun, ketika berada di sekitar mereka, kita dapat menikmati kedamaian, ketenangan, dan sukacita, yang sekarang ini sering disebut positive vibes.

Sebaliknya, terang tidak dapat disembunyikan. Di tengah kegelapan, terang sekecil apa pun tetap akan terlihat. Ada orang-orang yang “tetap terlihat walau jauh”, misalnya Bunda Teresa dari Kalkuta, Paus Fransiskus, atau romo paroki kita masing-masing. Mereka selalu menjadi perhatian karena memegang posisi penting, atau karena keutamaan dan kebaikan yang menjadikan mereka viral. Mereka selalu berada dalam sorotan, tetapi sekaligus mereka juga memancarkan cahaya sehingga bisa dilihat orang. Ini persis seperti yang dikatakan bacaan Injil hari ini, yakni “di atas gunung” dan “di atas kaki dian”.

Kita semua dipanggil untuk menjadi garam dan terang. Mungkin kita ini orang biasa, tidak memiliki jabatan dan kedudukan penting dalam Gereja atau masyarakat. Kita ini umat dan rakyat yang menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Namun, kita dipanggil menjadi garam, yakni dengan ambil bagian menciptakan situasi dan kondisi lingkungan yang penuh dengan damai dan sukacita. Keterlibatan aktif dalam hidup bermasyarakat dan hidup menggereja di tingkat kring, lingkungan, atau Komunitas Basis Gerejawi (KBG) merupakan bentuk panggilan kita menjadi garam.

Mungkin kita dipanggil untuk menjadi terang, lebih-lebih bagi kita yang menjadi tokoh atau memegang jabatan penting dalam masyarakat dan Gereja. Kita bisa menjadi terang ketika dengan berbagai keistimewaan atau kemudahan yang ada, kita tetap jujur, setia, dan penuh tanggung jawab. Ketika kita ikut korupsi atau menyalahgunakan jabatan, kita mengingkari panggilan sebagai terang. Sebagai orang biasa pun, kita tetap dipanggil menjadi terang. Ini bisa terjadi ketika kita menyatakan iman kita sebagai orang Katolik terutama pada saat-saat sulit. Para martir adalah penerang yang agung. Saat ini, di lingkungan tertentu, sekadar menghadiri Misa atau doa bersama pun kita bisa mendapat ejekan, gangguan, bahkan ancaman. Pergi menghadiri Misa atau doa bersama sudah merupakan “terang”. Terang selalu terdeteksi dan terlihat, sekecil apa pun itu. Sedikit terang dapat mengubah gelapnya malam.

Semoga kita selalu tahu bagaimana menjadi garam dan bagaimana menjadi terang. Amat pentinglah bahwa hidup dan pekerjaan kita sehari-hari dilakukan sedemikian rupa, sehingga melalui perbuatan baik kita, orang-orang dapat memuji Bapa kita yang di surga.