Semua Orang yang Menyentuh-Nya Disembuhkan

Senin, 9 Februari 2026 – Hari Biasa Pekan V

7

Markus 6:53-56

Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

***

Betapa luar biasa kekuatan yang muncul dari kontak pribadi dengan Tuhan. Bacaan Injil hari ini mengisahkan bahwa semua orang sakit yang menyentuh Yesus disembuhkan. Sentuhan fisik sekecil apa pun dapat menghasilkan mukjizat bagi mereka yang mendekati Yesus Kristus dengan iman. Kuasa-Nya untuk menyembuhkan melimpah dari hati-Nya yang penuh kasih dan bahkan meluas hingga ke pakaian-Nya. Kemampuan dan kemauan Yesus untuk menyembuhkan sangat berlimpah dan mudah diakses.

Kapan kita menyentuh Yesus? Ya, kita menyentuh Yesus, kita menerima Tuhan, dalam komuni kudus. Apakah kita melakukannya dengan iman bahwa kontak dengan Yesus ini dapat menghasilkan mukjizat dalam hidup kita? Lebih dari sekadar menyentuh ujung jubah-Nya, kita menerima tubuh Kristus sendiri ke dalam tubuh kita. Lebih dari sekadar menyembuhkan penyakit fisik, komuni menyembuhkan jiwa kita dan memberi kita bagian dalam kehidupan Allah sendiri. Santo Ignatius dari Antiokhia menyebut Ekaristi sebagai “obat keabadian dan penawar untuk mencegah kita dari kematian, yang menyebabkan kita hidup selamanya di dalam Yesus Kristus”.

Komuni kudus atau “obat keabadian” ini menyembuhkan kita dari segala sesuatu yang memisahkan kita dari Tuhan dan sesama. Disembuhkan oleh Kristus dalam Ekaristi berarti keegoisan kita teratasi. Menerima tubuh Kristus adalah cara untuk menghindari menjadi terasing atau acuh tak acuh terhadap nasib saudara-saudara kita. Spiritualitas Ekaristi adalah penawar sejati bagi individualisme dan keegoisan yang sering kali menjadi ciri kehidupan sehari-hari, serta mengarah pada penemuan kembali kemurahan hati dan penyembuhan luka-luka dari hubungan yang retak, khususnya dalam keluarga.

Sebagaimana orang-orang disembuhkan dari penyakit mereka dengan menyentuh pakaian-Nya, kita pun dapat disembuhkan dari keegoisan dan keterasingan kita dari orang lain dengan menerima Tuhan dengan iman.