
Matius 23:23-26
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”
***
Hari ini, Yesus mengajak kita untuk melihat skala prioritas. Ia tidak mengatakan bahwa memberikan persepuluhan itu salah. Persepuluhan adalah sesuatu yang baik. Yang menjadi persoalan adalah kalau kita begitu teliti mengurus hal-hal kecil, tetapi pada saat yang sama mengabaikan hal-hal yang lebih mendasar. Karena itu, Yesus memberi kita kompas, yakni keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.
Kemudian Yesus menggunakan gambaran yang sangat kuat. Ahli Taurat dan orang-orang Farisi disebutnya sebagai pemimpin-pemimpin buta yang menyaring nyamuk dari dalam minuman mereka, tetapi malahan menelan unta yang ada di dalamnya. Nyamuk itu kecil, sementara unta itu besar. Yesus sedang menunjukkan sebuah ironi: Kita bisa begitu serius terhadap sesuatu yang kecil, tetapi kehilangan perhatian terhadap sesuatu yang jauh lebih besar.
Sabda ini juga relevan ketika kita melihat kehidupan bersama sebagai bangsa. Kita bertanya-tanya tentang keputusan para pemimpin. Program makanan bergizi, penguatan koperasi desa, dan berbagai program sosial tentu memiliki tujuan yang baik. Namun, setiap kebijakan membutuhkan kebijaksanaan dalam menentukan prioritas: Apa yang perlu didahulukan, apa yang perlu diperkuat, dan apa yang jangan sampai terabaikan.
Karena itu, selain memenuhi kebutuhan hari ini, kita juga perlu memperhatikan hal-hal yang membangun masa depan, seperti pendidikan, kesehatan, kualitas manusia, lapangan pekerjaan, kesempatan bagi generasi muda, dan pembentukan karakter. Makanan bergizi membantu manusia bertumbuh hari ini, sedangkan pendidikan memampukan manusia membangun masa depan.
Namun, bacaan Injil ini akhirnya bukan terutama untuk mengkritik orang lain. Yesus mengajak kita becermin. Dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, bahkan dalam kehidupan beriman, kita pun dapat sibuk dengan “nyamuk” dan tanpa sadar menelan “unta”. Tiga kata dari Yesus bisa menjadi alat discernment sosial: Keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Kita bisa sangat teliti terhadap aturan, tetapi kurang memiliki belas kasihan. Kita bisa sibuk memperjuangkan pendapat sendiri, tetapi lupa pada keadilan. Kita bisa tampak baik dari luar, tetapi bagian dalam hati kita masih dipenuhi iri hati, kesombongan, atau kerakusan.
Karena itu, pertanyaan bacaan Injil hari ini sederhana: Apa “nyamuk” yang terlalu banyak menyita perhatian kita? Apa “unta” yang justru sedang kita abaikan? Iman yang dewasa tidak hanya kemampuan untuk membedakan yang benar dan salah, tetapi juga kemampuan untuk mengenali mana yang baik dan mana yang lebih utama.










