Melayani dengan Tulus

Selasa, 6 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXVII

2

Lukas 10:38-42

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil darinya.”

***

Marta, sebagai nyonya rumah, ingin memberikan sambutan yang terbaik bagi Yesus yang bertamu di rumahnya. Berbeda dengan Marta, Maria, saudarinya, duduk di bawah kaki Tuhan, dan dengan penuh perhatian mendengarkan-Nya. Merasa dibiarkan melayani seorang diri, Marta meminta Yesus agar menegur saudarinya. Alih-alih menuruti permintaan Marta, Yesus justru menegurnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil darinya.”

Tentu saja teguran Yesus ini tidak bisa dilihat sebagai penolakan pada keramahtamahan yang diberikan oleh Marta. Beberapa catatan dalam Injil Lukas menunjukkan bahwa keramahtamahan dan pelayanan seperti yang dilakukan oleh Marta harus dipahami sebagai tindakan yang terpuji. Ibu mertua Simon, segera setelah disembuhkan dari demamnya, bangkit dan melayani rombongan Yesus (Luk. 4:39). Dicatat juga bagaimana wanita-wanita melayani Yesus dan para murid dengan harta benda mereka (Luk. 8:1-3). Demikian juga dalam percakapan saat perjamuan malam terakhir, Yesus mengatakan, “Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Luk. 22:27).

Catatan-catatan itu cukup untuk mengatakan bahwa perikop Injil hari ini tidak menampilkan celaan terhadap tindakan keramahtamahan dan pelayanan seperti yang dilakukan oleh Marta. Yang menjadi sorotan di sini adalah cara Marta dalam menjalankan pelayanannya. Ia jatuh pada asumsi bahwa dirinya telah berbuat banyak dan menghakimi saudarinya yang dinilainya tidak melakukan apa-apa.

Demikian juga pujian terhadap Maria tidak bisa dijadikan alasan untuk beranggapan bahwa mendengarkan sabda Allah dan berdoa saja sudah cukup bagi orang beriman. Tidak bisa dibenarkan kalau orang menjadi pendengar yang pasif. Sikap mendengarkan yang ditunjukkan oleh Maria harus dipahami dalam konteks bahwa para pendengar sabda Allah yang sejati adalah mereka yang mampu menghayati dan melaksanakan apa yang didengarnya dalam kehidupan sehari-hari.

Kiranya menjadi jelas bahwa kisah Marta dan Maria tidak mempertentangkan antara tindakan melayani dan mendengarkan Tuhan. Kisah ini mengingatkan kita akan pentingnya mendengarkan sabda Allah dan membangun keintiman dengan Tuhan sebagai sumber kekuatan rohani dalam pelayanan. Dengan kekuatan rohani ini, kita dimampukan untuk dengan gembira dan tulus melibatkan diri dalam pelayanan demi kebaikan sesama, masyarakat, maupun Gereja.