Berdoa sebagai Anak Bapa

Rabu, 7 Oktober 2026 – Peringatan Wajib Santa Maria Ratu Rosario

9

Lukas 11:1-4

Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”

***

Mengabulkan permintaan para murid yang ingin diajari berdoa, Yesus mengajarkan kepada mereka Doa Bapa Kami. Sapaan “Bapa” yang dipakai dalam doa yang diajarkan oleh Yesus ini menggemakan nuansa kata bahasa Aram abba yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sapaan akrab seorang anak kepada ayahnya. Yesus sendiri menggambarkan keakraban-Nya dengan Bapa-Nya dalam doa syukur yang dipanjatkan-Nya: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu” (Luk. 10:22).

Dengan mengajari para murid menyapa Allah dengan sebutan Bapa, Yesus memasukkan mereka ke dalam relasi keakraban ini. Melalui hal ini, Yesus juga mengajak para murid untuk melihat Allah bukan hanya sebagai Tuhan, penguasa semesta yang jauh dan tidak terjangkau oleh manusia. Sebaliknya, dengan memakai sapaan kekeluargaan ini, Ia menunjukkan kepada mereka bahwa Allah juga sungguh dekat dengan mereka seperti seorang ayah yang memiliki relasi akrab dengan anak-anaknya.

Pertama-tama, dengan memperkenalkan Allah sebagai Bapa yang dekat dengan anak-anak-Nya, Yesus menyemangati para murid untuk tidak takut meminta apa pun kepada-Nya. Selain itu, Yesus memasukkan mereka dalam komunitas keluarga rohani yang bersama diri-Nya sendiri hidup sebagai saudara satu sama lain sebagai anak-anak Bapa di surga. Dengan demikian, melalui Doa Bapa Kami, Yesus tidak hanya mengajari para murid berdoa, tetapi juga mengajak mereka untuk menyadari dan menghidupi persaudaraan di antara mereka. Dalam semangat inilah mereka satu sama lain harus saling memperhatikan dan saling mengampuni.

Kita sampai sekarang mewarisi dan setia mendoakan doa yang diajarkan Yesus ini. Pertanyaan untuk kita renungkan: Apakah setiap kali mendoakan doa ini kita sungguh menyadari diri sebagai anak Bapa dan sadar sebagai saudara bagi yang lain? Ataukah doa ini secara otomatis saja keluar dari bibir kita tanpa membawa kita pada kesadaran tersebut?