Pendengar dan Pemelihara Sabda

Sabtu, 10 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXVII

8

Lukas 11:27-28

Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

***

Menyaksikan apa yang dilakukan Yesus, seorang wanita dari kerumunan orang banyak memuji Maria, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Menyinggung tentang dua peran penting seorang ibu, wanita itu hendak mengatakan bahwa Maria sungguh berbahagia karena pengorbanannya tidak sia-sia. Anak yang dikandung dan disusuinya menjadi pribadi yang besar dan luar biasa, mengajar dengan penuh wibawa dan membuat berbagai karya yang mengagumkan.

Mengoreksi anggapan itu, Yesus menggarisbawahi bahwa sumber kebahagiaan sejati manusia terletak pada ketaatan kepada sabda Allah. Karenanya Ia mengatakan, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Dengan jawaban itu, tentulah Yesus tidak berniat untuk mengesampingkan peran ibu-Nya. Sebaliknya, jawaban Yesus menggarisbawahi apa yang telah dicatat oleh penginjil Lukas di bagian awal Injilnya. Kepada malaikat yang membawa kabar bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus, Maria memberi jawaban, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Elisabet juga mengatakan bahwa Maria layak disebut sebagai wanita yang berbahagia, bukan hanya karena ia menjadi ibu jasmani bagi Putra Allah, melainkan juga karena ia percaya bahwa sabda Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana (lih. Luk. 1:45).

Dengan demikian, alih-alih merendahkan peran ibu-Nya, jawaban Yesus menyetujui bahwa Maria layak disebut sebagai yang berbahagia. Ia layak disebut demikian tidak hanya karena telah memberikan tubuh jasmani pada Yesus, tetapi pertama-tama karena ia adalah pendengar dan pemelihara sabda Allah yang setia. Dengan kata lain, jawaban Yesus menempatkan Maria sebagai contoh konkret dari pribadi-pribadi yang dalam perumpamaan tentang seorang penabur digambarkan sebagai tanah yang subur (lih. Luk. 8:4-15).

Dalam hal inilah, Maria, bunda Yesus dan bunda kita semua, tampil sebagai teladan bagi setiap murid Kristus. Bersama dengan Bunda Maria, kita diundang untuk menjadi murid Kristus yang dengan gembira mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya dalam kehidupan. Dengan demikian, kita pun boleh turut berbahagia bersamanya karena bisa menjadi tanah yang subur, tempat benih sabda tumbuh dan menghasilkan banyak buah.