Tuhan Bertindak: Menjadi Teladan

Selasa, 22 September 2026 – Hari Biasa Pekan XXV

3

Lukas 8:19-21

Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

***

“Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Dunia kita dipenuhi oleh berbagai macam keunggulan. Ada banyak orang pintar, orang-orang yang berintelektual. Ada banyak pesohor yang bisa menghibur. Ada banyak artis yang menampilkan karya seni yang luar biasa. Ada banyak pula pebisnis yang begitu cerdik menghasilkan uang dan keuntungan. Meski demikian, kita kekurangan satu hal: Orang-orang yang menjadi teladan.

Keteladanan adalah barang langka pada zaman ini. Menjadi teladan berarti hidup berintegritas. Hidup yang berintegritas adalah hidup yang terarah pada yang benar, terarah pada kehendak Allah, terarah pada gerak Roh Kudus. Menjadi teladan berarti kita berani menuntun orang pada keselamatan. Menjadi teladan berarti kita mau memikirkan kebaikan orang lain.

Mengapa orang takut menjadi teladan? Karena keteladanan membutuhkan kejernihan dan diri yang otentik. Kita tidak bisa menjadi teladan kalau hidup kita terus-menerus disembunyikan di balik topeng kesuksesan dan keberhasilan. Keteladanan tidak terkait dengan prestasi. Keteladanan terkait dengan integritas, hidup yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, hidup yang tidak narsistik, hidup yang tidak berpusat pada diri sendiri. Keteladanan terkait dengan hidup yang peduli pada kebaikan sesama.

Yesus mengundang kita untuk menjadi teladan. Yesus mengundang kita menjadi ibu dan saudara-saudari, menjadi orang-orang yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya. Saat di rumah, orang tua bisa menjadi teladan dengan membatasi penggunaan gawai, meluangkan waktu bersama pasangan dan anak-anak, serta mengucapkan kata-kata yang memberi hidup. Di sekolah, para guru bisa menjadi teladan dengan berlaku disiplin, tekun, sungguh-sungguh, jujur, dan adil. Di tempat kerja, pemimpin dan karyawan bisa saling menjadi teladan dengan bekerja keras, bersikap jujur, bersahabat, saling mendukung, dan murah hati. Masih banyak contoh keteladanan yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang penting, kita harus siap menghadirkan keteladanan dalam hidup kita.

Marilah kita mohon rahmat Tuhan agar hidup kita menjadi teladan bagi sesama, sekaligus menuntun orang lain pada keselamatan.