Membatalkan Taurat

Selasa, 20 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXIX

17

Efesus 2:12-22

Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

***

Paulus berbicara mengenai persatuan antara orang Yahudi dan bukan Yahudi dalam jemaat Kristen. Orang Yahudi sering memandang rendah mereka yang berada di luar kelompoknya, yakni semua orang bukan Yahudi. Orang Yahudi menyebut mereka “orang-orang yang tidak bersunat”. Selain Sabat dan peraturan mengenai makanan (haram dan halal), sunat menjadi identitas Yahudi, dan merupakan kekhususan mereka sebagai anggota umat pilihan Allah. Orang Yahudi dan orang bukan Yahudi dipisahkan oleh suatu tembok pemisah. Tembok pemisah ini menunjuk pada hukum Taurat yang telah membentengi orang Yahudi dari bangsa-bangsa lain.

Kristus merobohkan tembok pemisah itu dengan membatalkan hukum Taurat. Bagaimana Ia melakukannya? Dengan kematian-Nya, Kristus telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya. Dalam derita dan kematian-Nya, Kristus membawa keselamatan untuk seluruh umat manusia. Orang dapat memperoleh keselamatan karena Kristus, dan bukan karena taat pada hukum Taurat. Karena itu, tanpa Taurat, orang tetap dapat selamat. Inilah arti dari pembatalan hukum Taurat yang dilakukan oleh Kristus.

Untuk apa sebenarnya Kristus membatalkan Taurat? Pertama, untuk menciptakan orang Yahudi dan bukan Yahudi menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya. Taurat telah memisahkan orang Yahudi dari orang bukan Yahudi. Karena Taurat dibatalkan, dinyatakan tidak berlaku lagi, orang Yahudi dapat bersatu dengan yang lain. Kristuslah yang menjadi dasar persatuan ini.

Kedua, untuk memperdamaikan seluruh umat manusia dengan Allah. Orang Yahudi dan bukan Yahudi telah disatukan dalam Kristus, tetapi sebagai manusia mereka “berseteru” dengan Allah. Kristus mendamaikan manusia dengan Allah. Ia memulihkan kembali persekutuan antara Allah dan manusia yang telah rusak akibat dosa. Karena itu, sekarang semua orang, baik Yahudi maupun bukan Yahudi, dapat hidup sebagai anak Allah. Kayu saliblah yang menjadi sarana Kristus melakukan semuanya itu. Di kayu salib itu, Kristus menjadi silih bagi dosa-dosa manusia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kesatuan merupakan nilai penting dalam masyarakat. Persatuan membuat semua orang dapat hidup dalam damai sejahtera. Namun, tidak dapat dipungkiri pula kenyataan bahwa manusia terpisah satu sama lain dan terpecah-pecah. Ada begitu banyak tembok yang memisahkan kelompok manusia yang satu dengan kelompok yang lain. Lebih buruk lagi ketika manusia justru mendirikan tembok-tembok pemisah. Tembok pemisah itu dapat berupa perbedaan ras, agama, golongan, status sosial, intelektual, dan sebagainya. Mereka yang terkurung dalam tembok-tembok ini selalu melihat orang-orang di luar kelompoknya lebih rendah dan harus dijauhi. Bahkan, tembok-tembok pemisah itu menjadi alasan dan pembenaran bagi satu kelompok untuk menyingkirkan dan menindas kelompok lain.

Kristus adalah teladan dalam mewujudkan kesatuan umat manusia. Ia meruntuhkan tembok pemisah, yaitu Taurat, yang telah memisahkan orang Yahudi dari orang bukan Yahudi. Hanya bila tembok-tembok pemisah itu diruntuhkan akan terwujud kesatuan umat manusia. Bila manusia telah bersatu, mereka dapat hidup dengan rukun dan mewujudkan kesejahteraan bersama.