
Efesus 3:2-12
Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui darinya pengertianku akan rahasia Kristus, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya. Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu, dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.
***
Paulus menjelaskan bahwa melalui wahyu, Allah menyingkapkan sebuah rahasia yang sebelumnya tidak diketahui oleh generasi terdahulu. Rahasianya adalah: “Orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.” Istilah “ahli waris” digunakan dalam keluarga untuk menyebut orang yang mempunyai hak untuk menerima warisan. Orang itu tidak bekerja dan tidak mengusahakan apa-apa untuk mendapatkan harta yang diwariskan itu. Ia tinggal menerimanya saja.
Seperti itulah yang terjadi pada orang beriman. Dengan kepercayaan yang mereka miliki, mereka diangkat menjadi ahli waris keselamatan, yakni kehidupan kekal. Mereka tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan kekal. Allah telah memberikannya secara cuma-cuma, dan mereka hanya perlu menerimanya. Ini tidak berarti bahwa orang bebas berbuat dosa. Mereka dipanggil untuk menjalani kehidupan sebagai orang yang telah diselamatkan. Mereka dipanggil untuk hidup dalam kasih kepada Allah dan sesama.
Dalam kurun waktu yang amat panjang, kebenaran ini merupakan rahasia yang tidak diketahui oleh manusia. Allah tidak memberitahukannya kepada anak-anak manusia, dan manusia tidak dapat mencarinya sendiri. Hanya karena Allah menghendakinya, manusia dapat mengerti rahasia penyelamatan itu. Allah melihat bahwa waktunya telah tiba bagi Dia untuk menyatakan penyelenggaraan anugerah-Nya itu di dalam Roh kepada para rasul dan para nabi-Nya yang kudus. Mereka adalah orang-orang yang dikhususkan untuk dipergunakan oleh Allah untuk menyampaikan rahasia-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.
Meskipun menganggap dirinya sebagai “yang paling hina di antara segala orang kudus”, Paulus bersyukur karena dipercaya oleh Allah untuk memberitakan “kekayaan Kristus yang tidak terduga” kepada semua bangsa dan membukakan rencana Allah yang telah tersembunyi sejak berabad-abad. Allah telah menyatakan rahasia itu kepada Paulus melalui wahyu. Paulus menyinggung pengalamannya ketika Tuhan Yesus menjumpainya dalam perjalanan ke Damsyik. Yesus telah menyatakan diri kepadanya sebagai Anak Allah yang membawa keselamatan bagi manusia. Perjumpaan Paulus dengan Kristus yang telah bangkit menunjukkan kepadanya bahwa keselamatan yang dijanjikan oleh Allah itu telah datang dalam diri Kristus.
Orang yang percaya akan kabar keselamatan ini dipanggil untuk memberitakannya kepada semua orang. Keselamatan yang kita terima dari Allah tidak mungkin disembunyikan bagi diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk berlaku seperti Paulus yang rela memberikan hidupnya semata-mata agar semua orang mendengarkan kabar sukacita itu dan ikut menikmati keselamatan yang dijanjikan Allah. Hal ini tidak hanya dilakukan dengan kata-kata, tetapi juga dengan cara hidup yang diwarnai oleh pengharapan dan kasih. Kita menjalani kehidupan sambil memandang Allah yang memberikan kehidupan kekal kepada kita dan mengasihi sesama yang kita jumpai.










