Tanggung Jawab Para Pemimpin Gereja

Sabtu, 24 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXIX

4

Efesus 4:7-16

Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya kata nas: “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.” Bukankah “Ia telah naik” berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi daripada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

***

Paulus menyatakan bahwa kepada Gereja, Kristus memberikan orang-orang yang bertanggung jawab mengurus para anggotanya. Mereka adalah: (1) Rasul-rasul yang menerima Injil dari Kristus, lalu merintis dan membuka jalan pemberitaan Injil; (2) Para nabi yang menyampaikan firman dan petunjuk Allah; (3) Para pemberita Injil yang memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya; (4) Para gembala yang merawat, melindungi, dan membimbing jemaat; (5) Para pengajar yang mengajarkan kebenaran firman Allah secara mendalam.

Kristus memberikan semua jabatan itu bukan untuk kepentingan mereka sendiri, bukan untuk mencari popularitas atau pencapaian pribadi. Kristus memberikan semua jabatan itu agar mereka melayani para anggota jemaat atau orang-orang kudus, dan untuk pembangunan tubuh Kristus. Tujuan yang utama adalah agar seluruh jemaat mencapai kesatuan iman, pengenalan yang benar akan Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Karena itu, orang-orang yang dipercaya untuk memegang jabatan-jabatan itu harus memikirkan iman seluruh anggota jemaat.

Paulus mengingatkan bahwa tugas mereka adalah untuk membantu para anggota jemaat agar memiliki pengetahuan yang benar tentang Kristus, supaya lebih mengenal-Nya. Aneh bila orang mengatakan percaya kepada Kristus, tetapi tidak mengenal-Nya. Jika para anggota jemaat memiliki pengenalan yang benar akan Kristus, mereka dapat mengarahkan hidup mereka menjadi serupa dengan Kristus. Kalau para anggota jemaat mengenal Kristus dan serupa dengan Dia, mereka akan bersatu. Kesatuan ini bukan hasil kompromi, melainkan berakar pada pengenalan yang benar dan mendalam akan Kristus. Makin jemaat mengenali Kristus, makin bersatu pula mereka.

Orang-orang yang dipercaya oleh Tuhan untuk mengurus jemaat harus melakukan tanggung jawab mereka supaya para anggota jemaat mencapai kedewasaan iman. Orang beriman yang dewasa tidak lagi seperti anak-anak yang gampang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran atau tipu daya manusia yang menyesatkan. Sebaliknya, dengan memegang teguh kebenaran di dalam kasih, jemaat tumbuh menuju Kristus sebagai kepala. Seluruh tubuh terikat rapi dan ditopang oleh setiap bagian sesuai fungsinya, sehingga tubuh Kristus terus berkembang dan membangun dirinya dalam kasih.

Pesan yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat Efesus ini mengingatkan kita akan pentingnya mengenal Kristus. Untuk dapat mengenal Kristus, orang harus memiliki pengetahuan intelektual tentang Kristus dengan bersumber pada Kitab Suci dan ajaran Gereja. Namun, itu belum cukup. Pengenalan akan Kristus melibatkan ikatan kasih dan pengalaman pribadi dengan-Nya. Hal ini dapat dilakukan dengan doa, mendengarkan firman, dan kegitatan liturgi Gereja. Pengenalan yang sejati membuahkan perubahan hidup. Makin seseorang mengenal Kristus, makin ia berpikir, berkata-kata, dan bertindak seperti Kristus, penuh belas kasihan, rendah hati, dan taat kepada Bapa.