Melakukan Semua dengan Kasih dan Kepedulian

Rabu, 14 Oktober 2026 – Hari Biasa Pekan XXVIII

6

Lukas 11:42-46

“Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”

***

Suatu hari, seorang suster muda yang tinggal di komunitas suster lansia sedang merangkai bunga untuk kapel. Dia melihat seorang suster sepuh yang sedang berusaha memindahkan sebuah pot bunga. Suster itu kesulitan mengangkatnya karena pot itu cukup besar. Suster muda itu ingin membantu, tetapi berpikir bahwa ia akan melakukan itu setelah pekerjaannya sendiri selesai. Namun, setelah pekerjaannya selesai, suster sepuh itu ternyata sudah tidak ada lagi karena sudah selesai juga membereskan taman.

Kisah sederhana itu mengingatkan kita bahwa kadang-kadang kita begitu sibuk, sehingga lupa akan tujuan utama dari semua pekerjaan kita, yakni kasih dan kepedulian kepada sesama. Kita bisa menyelesaikan banyak tugas, menjalankan banyak pelayanan, tetapi menjadi kurang maknanya ketika kita tidak lagi peka terhadap kebutuhan orang lain.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegur orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka begitu teliti menjalankan aturan dan kewajiban agama, tetapi mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yesus tidak mengatakan bahwa kewajiban-kewajiban itu tidak penting. Namun, Ia mengingatkan bahwa yang satu harus dilakukan tanpa mengabaikan yang lain.

Dalam kehidupan Kristen, kita tidak dipanggil untuk memilih antara doa dan pelayanan, antara kesetiaan pada tugas dan kepedulian kepada sesama, antara kehidupan rohani dan tanggung jawab sosial. Semua itu harus berjalan bersama. Doa yang benar melahirkan kepedulian, pelayanan yang sejati bersumber dari relasi dengan Tuhan, dan kesetiaan pada tugas tidak membuat kita menjadi tidak peduli terhadap orang yang membutuhkan pertolongan. Pekerjaan dan pelayanan kita harus merupakan buah dari relasi kita dengan Tuhan.

Yesus menghendaki kesaksian hidup yang utuh. Jangan sampai kita begitu sibuk mengurus pekerjaan yang kita anggap sebagai pelayanan kepada Tuhan, tetapi melupakan manusia yang dikasihi Tuhan. Jangan sampai kita sangat disiplin dalam menjalankan tugas, tetapi menjadi keras terhadap mereka yang lemah. Jangan sampai pelayanan kita menghasilkan banyak kegiatan, tetapi tidak menghasilkan kasih, penghiburan, dan kesejahteraan bagi sesama. Setiap karya dan pekerjaan kita hendaknya selalu ditempatkan dalam terang kehendak Allah. Kita berkarya bukan sekadar untuk menyelesaikan tugas atau untuk mendapatkan penghargaan atau untuk menunjukkan kemampuan diri. Kita berkarya agar melalui pekerjaan itu, kehidupan menjadi lebih baik, orang lain mengalami pertolongan, mereka yang kecil memperoleh perhatian, dan orang yang menderita merasakan bahwa mereka tidak sendirian.

Hendaknya kita selalu memiliki kesadaran bahwa pelayanan kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kepedulian kepada sesama. Bakti kita kepada Allah harus ditunjukkan dengan kepedulian kepada sesama, sebab manusia adalah citra Allah. Setiap kali kita berdoa, kita diutus untuk mengasihi sesama. Setiap kali kita bekerja, kita dipanggil untuk menghadirkan kebaikan Allah. Setiap kali kita melayani, kita diingatkan untuk melihat wajah Kristus dalam diri sesama yang kita layani, terutama mereka yang kecil, lemah, tersingkir, dan menderita. Dalam diri mereka, Allah hadir dan memanggil kita.

Marilah kita belajar dari Yesus untuk melakukan semuanya dengan seimbang dan utuh: Tidak mengorbankan yang satu demi yang lain, tetapi menyatukan semuanya dalam kasih. Pada akhirnya, yang membuat hidup dan pelayanan kita berkenan kepada Allah bukanlah banyaknya pekerjaan yang kita lakukan, melainkan seberapa jauh kasih Allah sungguh menjadi nyata bagi sesama yang kita layani.