Yesus dan Orang-orang Sakit

Sabtu, 9 Maret 2019 – Hari Sabtu Sesudah Rabu Abu

33

Lukas 5:27-32

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

***

Dalam bahasa kita, kata “sakit” tidak hanya menunjuk pada orang yang sakit secara fisik. Orang yang mentalnya terganggu atau yang punya kelainan tertentu dalam bersikap pun sering disebut orang sakit. Dalam bacaan Injil hari ini, kata “sakit” dipakai Yesus untuk menggambarkan orang berdosa, yang pada kesempatan ini dialamatkan kepada Lewi, pemungut cukai yang Ia panggil. Lewi pada akhirnya bertobat dan bersedia mengikut Dia.

Sebagai para pengikut Yesus, kita sebenarnya diundang untuk memosisikan diri seperti Lewi, yakni sebagai orang-orang sakit, sebagai orang-orang yang berdosa. Mengapa demikian? Sebab, Yesus menyebut diri-Nya datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa. Yesus adalah tabib bagi orang-orang sakit, dan kita semua adalah orang-orang sakit itu. Ia datang untuk menyapa dan menyelamatkan kita; kita sangat membutuhkan Dia.

Namun, sering kali kita justru memosisikan diri seperti orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut ketika Yesus datang, duduk, dan makan bersama-sama pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Tidak saja kita tidak merasa berdosa, tetapi lebih lagi: kita sering merasa orang lain sebagai pendosa dan lebih berdosa dari kita. Orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sering kali bersikap seperti itu. Merasa diri suci, mereka berpandangan sebagai orang-orang yang paling dekat dengan Allah, juga paling taat kepada Hukum Taurat. Orang-orang selain mereka adalah orang-orang yang kotor dan penuh dosa.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita bersikap seperti itu. Kita merasa diri paling benar, dan dengan itu kita merendahkan serta mempersalahkan orang lain. Kita jadi suka menghakimi mereka. Akibatnya sangat fatal, sebab dengan itu kita sebenarnya mencelakakan diri kita sendiri. Merasa diri paling benar, paling bersih, dan paling suci, lama-kelamaan kita lalu beranggapan bahwa kita tidak membutuhkan Allah. Kita merasa kuat dan cukup dengan diri kita.

Bacaan Injil hari ini menegaskan bahwa kerendahan hati dan kerelaan untuk mengakui bahwa kita ini lemah, sakit, dan berdosa merupakan pintu utama bagi kita untuk menerima sapaan dan kehadiran Tuhan. Tuhan justru akan semakin mencintai kita, semakin terlibat dalam hidup kita, manakala kita mengakui dengan rendah hati segala sakit dan kelemahan kita. Dari keberdosaan kita, Tuhan akan menganugerahkan pemulihan. Dari sakit kita, Ia akan menganugerahkan kesembuhan dan kebangkitan. Yang dibutuhkan hanya satu: kerendahan hati kita. Tuhan hanya membutuhkan keterbukaan kita, bahwa kita ini memang orang berdosa, orang sakit, yang membutuhkan kehadiran Yesus sebagai tabib, sebagai dokter bagi jiwa dan raga kita.