Penderitaan dan Pengorbanan Kristus

Senin, 12 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XIX

48

Matius 17:22-27

Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” Jawabnya: “Memang membayar.” Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus: “Dari orang asing!” Maka kata Yesus kepadanya: “Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.”

***

Kita sering kali tidak puas dengan apa yang kita terima dalam kehidupan ini. Karena itu, kita terdorong untuk berjuang keras demi mendapatkan apa yang kita inginkan. Akan tetapi, ambisi tersebut sayangnya membuat kita terkadang lupa untuk beryukur kepada Tuhan.

Bacaan pertama dari kitab Ulangan hari ini (Ul. 10:12-22) mengajak bangsa Israel untuk tahu bersyukur dan taat kepada Tuhan. Alasannya, Tuhan sudah memberikan semua yang dibutuhkan oleh bangsa itu. Mereka dipelihara dengan baik oleh Tuhan selama berjalan di padang gurun di bawah pimpinan Musa.

Dalam Perjanjian Baru, penyelenggaraan Allah terhadap manusia terwujud dalam kehadiran Putra-Nya, Yesus Kristus. Yesus Kristus hadir sebagai penyempurna dan penyelamat sejati bagi seluruh umat manusia. Itulah yang disebut dengan penyelamatan universal. Ia hadir sebagai Anak manusia yang rela menderita demi keselamatan manusia. Pengorbanan-Nya murni untuk kepentingan orang lain.

Penderitaan menjadi jalan bagi kebesaran Kristus yang akan datang kembali nanti pada saat eskatologis. Dengan hadir sebagai Anak manusia, Yesus membuka harapan baru bagi masa depan umat manusia. Demikianlah Ia hadir dan berkarya seperti yang dikehendaki Allah, bukan seperti yang dibayangkan oleh manusia.