Pentingnya Kesetiaan

Jumat, 16 Agustus 2019 – Hari Biasa Pekan XIX

54

Matius 19:3-12

Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan istrinya?” Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zina.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”

***

Nenek moyang bangsa Israel dulunya merupakan kelompok kecil dan tidak diperhitungkan. Mereka saat itu belum berbentuk bangsa dan menyembah dewa-dewi yang tidak dikenal. Namun, Tuhan mengambil Abraham, leluhur orang Israel, dan menjadikannya sebagai hamba-Nya. Mulai saat itu, Allah menjanjikan bangsa yang besar bagi Abraham.

Janji tersebut awalnya sangat sulit dimengerti karena Abraham tidak mempunyai keturunan. Namun, secara perlahan, apa yang dijanjikan menjadi nyata, dan lebih lagi Tuhan menganugerahkan berkat berlimpah bagi bangsa itu. Sebagai balasan, yang diharapkan Tuhan hanya satu, yakni kesetiaan bangsa Israel kepada-Nya.

Kesetiaan merupakan salah satu keutamaan tertinggi bagi manusia. Dengan bersikap setia, hati kita teguh terhadap sesuatu hal. Itulah yang diajarkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Ia berbicara tentang kesetiaan dalam perkawinan antara laki-laki dan perempuan. Ketidaksetiaan terhadap pasangan dipandang-Nya sebagai tindakan zina.

Demikianlah kesetiaan merupakan jalan agar keluarga dapat hidup bersama dalam kesejahtaraan, juga merupakan jalan menuju keselamatan kekal. Marilah kita bersikap setia, baik terhadap Tuhan maupun terhadap pasangan kita.