Perubahan yang Membawa Keselamatan

Sabtu, 4 Juli 2020 – Hari Biasa Pekan XIII

44

Matius 9:14-17

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”

***

Tidak semua orang suka dengan perubahan. Perubahan dianggap mengusik kenyamanan yang selama ini sudah mendarah daging dalam hidupnya. Selain membenci perubahan, orang-orang itu membenci pula pribadi yang membawa perubahan. Mereka kemudian suka sekali mencari-cari kesalahan sosok tersebut agar kebencian itu bisa dilampiaskan.

Sejumlah pihak tidak menyukai perubahan yang dibawa Yesus. Masalah yang diangkat kali ini adalah soal puasa. Selama ini puasa dijalankan masyarakat sekadar sebagai suatu kewajiban. Orang-orang tidak sadar bahwa dengan demikian puasa kehilangan maknanya yang terdalam. Kehadiran Yesus yang lebih menekankan makna puasa dianggap sebagai batu sandungan. Mereka pun berusaha mencari cari kesalahan Yesus dan membenarkan pendapat mereka sendiri. Namun, Yesus tetap konsisten dengan sikap-Nya. Perubahan yang dinyatakan Yesus adalah kabar sukacita yang membawa keselamatan bagi mereka yang percaya.

Kehadiran virus corona mengubah cara hidup kita. Kita sekarang hidup di era new normal atau kelaziman yang baru. Cara kita semua dalam bertingkah laku diubah agar segenap masyarakat dapat beraktivitas dengan selamat. Siap tidak siap, kita harus siap menerima perubahan ini. Semoga perubahan ini justru membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat, pribadi yang lebih menghargai kehidupan, pribadi yang mau bekerja sama dengan Tuhan dalam merawat seluruh alam ciptaan.

Semoga kita bukan pribadi-pribadi yang hanya melihat sisi negatif dari apa yang terjadi, pribadi-pribadi yang gemar mencari-cari kesalahan orang lain. Semoga hati kita diteguhkan Tuhan untuk menjalani semuanya ini dengan terang iman. Kehidupan yang lebih baik akan tercipta jika kita siap dan mau diubah oleh-Nya.