Air yang Mematikan, Menghidupkan, dan Menyucikan (6)

Makna Air dalam Alkitab

496

Lambang Roh Kudus

Asosiasi air atau hujan dengan Allah yang menghidupkan dilakukan juga dengan Roh Allah. Di halaman pertama Alkitab kita sudah berjumpa dengan Roh Allah yang “melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:2). Hubungan antara Roh dan air beberapa kali ditemukan dalam Perjanjian Lama. Dalam Yes. 44:3-4, pencurahan Roh atas keturunan Israel diumpamakan dengan pencurahan air hujan ke atas tanah yang haus. Kata kerja “dicurahkan” yang lazim digunakan untuk air hujan sering digunakan pula untuk Roh (Yes. 32:15; Za. 12:10; Yl. 2:28-29; par. Kis. 2:17-18; dll.). Nubuat istimewa Yoel (Yl. 2:28 dst.) tentang pencurahan Roh ke atas semua manusia, muda dan tua (yang dikutip dalam Kis. 2:17 dst.), didahului ajakan nabi untuk bersukacita “karena TUHAN, Allahmu … telah memberikan kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan menurunkan kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu” (Yl. 2:23). Asosiasi antara Roh dan air tampak lagi dalam nubuat agung Yeh. 36:26-27 tentang pemberian roh yang baru, Roh Allah sendiri, yang akan diam dalam batin umat-Nya. Nubuat ini diawali dengan janji Allah: “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih” (ay. 25).

Perlambangan Roh dengan air dalam Alkitab Ibrani menjadi latar belakang bagi hubungan erat antara air dan Roh dalam Injil Yohanes. Injil keempat menunjukkan simbolisme air yang kaya dan unik: selain dalam tradisi sinoptis tentang pembaptisan Yesus (Yoh. 1:26-33), juga dalam tujuh adegan yang khas Yohanes, yakni dalam tanda air yang diubah menjadi anggur (2:7-9; 4:46), dalam percakapan Yesus dengan Nikodemus (3:5) dan dengan perempuan Samaria (4:7-15), dalam tanda penyembuhan orang sakit di kolam Betesda (5:3-7), pemberitaan Yesus pada hari raya Pondok Daun (7:38) dan pembasuhan kaki para murid (13:5), dan dalam adegan darah dan air yang mengalir keluar dari lambung Yesus (19:34). Yohanes menggunakan simbolisme itu untuk mengungkapkan pandangannya tentang Roh, entah menyangkut karya Roh (1:32-33; 3:5-8; 4:23-24; 7:38-39) atau menyangkut penahiran ritual yang diganti dengan Roh (2:6; 13:10-11).[1]

Adegan kunci adalah pemberitaan Yesus pada hari raya Pondok Daun dalam Yoh. 7. Hari raya Yahudi pada akhir musim panen itu mengenangkan penyelenggaraan ilahi selama perjalanan umat Israel di padang gurun, antara lain dengan ritual air. Setiap hari selama tujuh hari pesta itu dibawalah air dari kolam Siloam untuk dicurahkan di dalam Bait Allah. Hal ini dilakukan pertama-tama untuk mengenangkan air yang secara ajaib diberikan kepada Israel di Meriba (Bil. 20:2-13).[2] Ritual ini disertai permohonan agar hujan diturunkan pada musim yang akan datang. Curahan hujan ini oleh para rabi Yahudi maupun jemaat perdana dikaitkan dengan pencurahan Roh Allah pada zaman mesianik (bdk. Kis. 2:16-21).[3]

Dengan latar belakang itu, Yesus “pada hari terakhir,” yang melambangkan zaman akhir, memberitakan bahwa Ia sendirilah sumber air yang hidup tersebut. Ia berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yoh. 7:37). Dalam diri Yesus, berkat zaman mesianik sudah tiba. Lebih jauh Yesus berjanji bahwa dari dalam hati orang yang percaya kepada-Nya akan mengalir aliran-aliran air hidup (ay. 38). Sumbernya tentu tetap Yesus sendiri; dan siapa saja yang percaya akan mengalirkan air hidup tersebut dari dalam batinnya untuk meneruskannya kepada orang lain lagi. Penginjil secara eksplisit menjelaskan bahwa apa yang dimaksudkan Yesus dengan aliran-aliran air hidup adalah Roh yang pada saat Yesus dimuliakan (ay. 39) akan diberikan kepada semua orang yang percaya dan melalui mereka dicurahkan lagi kepada orang lain.

Janji Yesus itu tampak terwujud ketika Yesus yang bangkit mengembuskan Roh Kudus ke atas murid-murid (Yoh. 20:22). Perwujudannya bahkan sudah mulai ketika darah serta air mengalir dari lambung Yesus saat Ia ditinggikan atau dimuliakan di atas salib (Yoh. 19:34). Di situlah Yesus terlihat sebagai sumber air yang hidup yang mengalirkan Roh-Nya kepada semua orang yang percaya.

Janji yang serupa dengan Yoh. 7:38 terlebih dahulu diberikan oleh Yesus kepada seorang perempuan Samaria di Sumur Yakub. Ia menawarkan kepadanya air hidup (4:10), air yang “akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (4:14). Di sini air hidup juga melambangkan Roh yang diberikan oleh Yesus ke dalam hati orang dan yang menjadi mata air yang terus memancarkan hidup kekal, pertama-tama bagi perempuan itu sendiri, tetapi juga bagi dunia, sebagaimana kemudian tampak dari misi perempuan di Kota Samaria (Yoh. 4:28-29).

(Bersambung)

 

[1] Myers (ed.), The Eerdmans Bible Dictionary, p. 1047-8.

[2] Leland Ryken (ed.), Dictionary of Biblical Imagination, p. 931.

[3] Henry M. Knapp, “The Messianic Water Which Gives Life to the World”, Horizons in Biblical Theology 19 (1997) 1: 110.