Dari Sukacita Kenaikan Menuju Semangat Perutusan

Kamis, 14 Mei 2026 – Hari Raya Kenaikan Tuhan

5

Matius 28:16-20

Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

***

Setelah menyelesaikan SMA, saya menyampaikan kepada orang tua keinginan untuk menjadi biarawati. Salah seorang kakak laki-laki saya yang saat itu sedang kuliah di Medan lalu mengajak saya untuk mengunjungi beberapa biara yang ada di kota itu. Ketika pulang, kakak mengantarkan saya ke terminal. Penumpang saat itu sangat banyak, dan sistemnya adalah siapa cepat, dia dapat. Sebelum bus datang, kakak mengatakan supaya saya tetap di tempat, dan dia yang akan mencarikan kursi untuk saya. Saat bus datang, kakak langsung berlari berebutan dengan penumpang lain untuk mendapatkan kursi. Dia berhasil duduk, dan dengan tenang saya masuk ke dalam bus menggantikan dia. Di dalam bus, saya merenungkan betapa beruntungnya saya mempunyai saudara yang memperhatikan dan mencintai saya. Ini menimbulkan tekad di hati saya untuk juga selalu mencintai dan memperhatikan sesama.   

Kenaikan Yesus ke surga sering kali dipahami sebagai perpisahan. Namun, jika kita merenungkan bacaan Injil hari ini, peristiwa ini sesungguhnya merupakan sumber sukacita yang mendalam. Kenaikan Yesus bukan kehilangan, melainkan kemenangan karena Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita. Ia membuka jalan menuju kehidupan kekal. Dengan demikian, hidup kita di dunia berjalan dengan arah yang jelas, yakni bersatu dengan Allah dalam kemuliaan kelak.

Dalam peristiwa kenaikan, para murid berkumpul di sebuah bukit di Galilea, tempat yang telah ditentukan Yesus. Di sana, mereka berjumpa dengan Dia yang telah bangkit. Meskipun ada yang masih ragu, mereka sujud menyembah-Nya. Situasi ini sangat manusiawi: Iman dan keraguan berjalan berdampingan. Namun, Yesus tidak menegur mereka atas keraguan itu. Sebaliknya, Ia memberikan amanat agung, sebuah kepercayaan besar kepada mereka yang masih dalam proses bertumbuh.

Yesus berkata, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Perintah ini bukan sekadar tugas tambahan, melainkan identitas kita sebagai pengikut Kristus. Kita dipanggil untuk menjadi pewarta kabar gembira, menjadi misionaris yang menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi misionaris tidak selalu berarti pergi ke tempat yang jauh. Kita diutus mulai dari lingkungan terdekat, yakni keluarga, tempat kerja, sekolah, dan masyarakat sekitar. Melalui kata-kata yang membangun, sikap yang penuh kasih, dan tindakan yang mencerminkan Injil, kita sudah ambil bagian dalam melaksanakan amanat agung itu.

Membaptis “dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” berarti mengajak orang lain untuk masuk ke dalam relasi kasih dengan Allah. Hal yang penting untuk selalu kita ingat adalah bahwa perutusan ini bukan beban yang menakutkan. Yesus mengutus mereka dengan janji yang penuh harapan: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Inilah sumber kekuatan dan sukacita kita, yakni bahwa kita berjalan bersama Tuhan.

Kenaikan Yesus mengajak kita untuk mengarahkan pandangan ke surga tanpa melupakan tugas di bumi. Kita sudah diselamatkan, tetapi masih berziarah menuju kepenuhan. Dalam perjalanan ini, kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia. Karena itu, marilah kita menjalani hidup dengan sukacita sejati, sukacita karena kita dicintai, diselamatkan, dan diutus. Jangan biarkan rasa takut atau keraguan menghalangi langkah kita. Sebaliknya, biarlah sukacita kenaikan Tuhan menjadi api yang mendorong kita untuk mewartakan Injil kepada semua orang. Marilah kita mohon kepada Tuhan, agar kita diberi rahmat kesetiaan dan hati yang penuh sukacita untuk menjawab panggilan Tuhan, yakni untuk pergi, bersaksi, dan membawa kabar gembira kepada semua orang yang kita jumpai dalam penziarahan hidup kita di dunia ini.