
Yohanes 15:12-17
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”
***
Yesus sangat mengasihi murid-murid-Nya, sebagaimana Bapa sangat mengasihi Dia. Kasih itu terwujud nyata saat mereka berkeliling bersama untuk mewartakan Injil, dan berpuncak pada penyerahan diri Yesus di kayu salib. Mengapa Yesus begitu mengasihi mereka?
Di samping meneruskan kasih Bapa, ternyata ada alasan lain yang begitu mengharukan. Yesus mengasihi para murid karena mereka adalah sahabat-sahabat-Nya. Ini merupakan pengangkatan ke tingkat yang tidak terbayangkan sebelumnya. Seorang hamba hanya mengikuti kemauan tuannya, tetapi sahabat, selain memiliki kedekatan yang erat, juga adalah tempat berbagi. Para murid bukan hamba, melainkan sahabat-sahabat Yesus. Kepada para sahabat-Nya itu, Yesus menceritakan rencana dan kehendak Bapa. Tidak ada sesuatu pun yang disembunyikan oleh-Nya. Demi mereka pula, Ia merelakan nyawa-Nya. Ini adalah bukti kasih yang paling agung.
Dunia penuh dengan kebencian. Lawan-lawan Yesus sedang bergerak; mereka bersiap hendak menangkap dan menghabisi-Nya. Pada akhirnya, nafsu angkara mereka nanti terpuaskan melihat Yesus mati tergantung di kayu salib. Betapa menyedihkan sikap mereka itu. Bagaimana bisa mereka bersorak di atas penderitaan orang lain? Namun, itulah yang terjadi. Nasib para murid kelak tidak jauh berbeda. Hidup mereka akan semakin berat. Meskipun begitu, hendaknya mereka tidak menyerah, tidak pula mengikuti arus dunia.
Sebagai pesan terakhir, Yesus berkata, “Kasihilah seorang terhadap yang lain.” Yesus melihat, kalau para murid mengembangkan sikap saling mengasihi, kesatuan kelompok itu akan senantiasa terjaga. Mereka juga tidak akan tertular oleh semangat kebencian dan kekerasan yang melanda masyarakat. Sementara orang lain saling membenci, hendaknya para murid saling mengasihi. Semoga justru masyarakatlah yang tertular oleh semangat kasih yang dihidupi secara nyata oleh murid-murid Yesus.
Perintah agung Yesus ini sederhana, tetapi tidak mudah dilaksanakan. Kita boleh bangga bahwa agama kita mengajarkan cinta kasih. Namun, sudahkah kita sendiri melaksanakan ajaran itu? Jika ternyata sulit bagi kita untuk mengasihi orang lain, Yesus di sini menawarkan bantuan: Lihatlah orang lain sebagai sahabat, meskipun mungkin orang itu tidak sempurna. Kalau sudah menganggap seseorang sebagai sahabat, tentu akan lebih mudah bagi kita untuk mengasihinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mari kita ingat bahwa Yesus sudah terlebih dahulu menganggap kita sebagai sahabat dan mengasihi kita, meski kita ini penuh kelemahan dan sama sekali tidak sempurna.










