Sukacita yang Penuh

Kamis, 7 Mei 2026 – Hari Biasa Pekan V Paskah

8

Yohanes 15:9-11

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.”

***

Menjelang kepergian-Nya, Yesus memberi wejangan kepada para murid agar mereka senantiasa tinggal di dalam Dia, seperti ranting yang tumbuh di sekitar pokok anggur. Tanpa pokok anggur, ranting tentu akan mati, sehingga dalam kondisi apa pun, ranting tidak boleh sampai terlepas dari pokoknya. Demikian halnya dengan murid-murid Yesus. Mereka harus senantiasa bersatu dengan Yesus, sebab dari Yesuslah mengalir kasih dan kehidupan. Kepergian Yesus tidak boleh menjadi alasan bagi para murid untuk meninggalkan Dia. Meskipun secara fisik Yesus tidak lagi bersama mereka, Ia tetap ada di antara mereka dengan berbagai cara.

Wejangan tersebut kemudian berlanjut. Kasih Bapa kepada Yesus sangat besar, dan sebesar itu pulalah kasih Yesus kepada murid-murid-Nya. Mengapa Yesus begitu mengasihi mereka? Karena Yesus meneruskan apa yang telah diterima-Nya dari Bapa. Dalam tindakan-tindakan-Nya saat bersama para murid mewartakan Injil, Yesus mewujudkan kasih itu secara nyata. Puncaknya adalah saat Ia rela menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib demi kelangsungan hidup mereka dan seluruh umat manusia.

Karena itu, meskipun nanti Yesus pergi, para murid diminta-Nya untuk tetap tinggal dalam kasih-Nya. Caranya? Hanya mengatakan “aku mengasihi Yesus” ternyata tidak cukup. Untuk tinggal dalam kasih Yesus, para murid harus melakukan sesuatu yang nyata, yakni menuruti perintah-Nya.

Dengan kata lain, murid-murid diminta untuk bersikap taat. Kasih dan ketaatan memang berhubungan erat. Kalau kita sungguh mengasihi seseorang, tentunya kita akan mendengarkan, menaati, dan melaksanakan apa saja yang dikehendakinya. Itu baru disebut kasih yang nyata. Contoh paling jelas adalah kasih Yesus kepada Bapa, yang secara konkret diwujudkan-Nya dalam bentuk ketaatan sampai akhir. Sekarang giliran para murid membuktikan kasih mereka kepada Yesus dengan bersikap taat menuruti perintah-Nya. Yesus menegaskan bahwa orang yang mendengarkan dan menaati perkataan-perkataan akan mengalami sukacita yang penuh, sukacita sejati.

Banyak yang berpikiran bahwa mereka akan bersukacita kalau keinginan-keinginan mereka terpenuhi, kalau mereka tidak berkekurangan, atau kalau mereka memiliki hal-hal terbaik yang ada di dunia ini. Sukacita seperti itu cenderung bersifat egois karena berfokus pada diri sendiri, melupakan fakta bahwa keadaan diri seseorang dipengaruhi juga oleh keadaan lingkungan sekitarnya. Bagaimana mungkin orang bersukacita kalau di sekitarnya banyak orang menderita? Bagaimana mungkin orang bergembira karena punya banyak uang kalau uang tersebut ternyata merupakan hasil rampasan dari jerih payah orang lain?

Sukacita yang penuh akan kita rasakan kalau kehendak Allah benar-benar terwujud di dunia ini. Allah menghendaki agar kebenaran, keadilan, dan belas kasihan ditegakkan agar seluruh ciptaan-Nya mengalami keselamatan. Sebagai murid-murid Yesus, menjadi panggilan kita untuk secara aktif ambil bagian dalam perjuangan itu.