Spiritualitas Ziarah Menurut Perjanjian Lama (10)

166

Mencari kehendak Allah

Di tempat-tempat suci, orang juga memohon petunjuk dari Allah, baik mengenai persoalan yang ia hadapi maupun mengenai masa depan mereka (Kel. 18:13; 1Sam. 14:18). Ia memohon kepada Allah untuk menunjukkan apa yang harus ia lakukan sehubungan dengan persoalan yang dihadapinya. Hal ini dilakukan dengan sarana urim dan tumim.

Urim dan tumim adalah undi kudus yang disimpan di dalam tutup dada pernyataan keputusan yang dipasang pada efod imam (Kel. 28:30; Im. 8:8). Bentuknya tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi pada umumnya orang menganggap bahwa undi itu terdiri dari dua batu: yang satu disebut urim, yang lain tumim. Juga tidak dapat diketahui dengan pasti bagaimana urim dan tumim digunakan, tetapi dapat diketahui bahwa dengan undi kudus itu dapat dibuat pilihan antara dua kemungkinan: ya atau tidak (bdk. Bil. 27:21; 1Sam. 14:41). Dengan cara ini, mereka ingin mengetahui kehendak Allah. Namun, Allah tidak dapat dipaksa menjawab dengan perantaraan urim dan tumim, bisa jadi bahwa Ia diam (1Sam. 28:6).

Cara lain untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan di tempat ibadat adalah dengan mengharapkan mimpi. Sering kali mimpi merupakan kesempatan untuk mengadakan pertemuan dengan Tuhan (bdk. 2Sam. 7). Dalam dunia Perjanjian Lama, mimpi sering kali menjadi sarana pewahyuan Allah kepada manusia. Dalam pandangan agama kuno, mimpi merupakan salah satu alat yang dipergunakan Allah untuk menyatakan kehendak-Nya.

Salomo sengaja pergi dan mempersembahkan kurban di tempat ibadat untuk mencari bimbingan atau petunjuk dari Tuhan (lewat mimpi). Mimpi yang dialami di tempat suci itu mempunyai makna yang amat khusus dan mendalam (bdk. mimpi Yakub di Betel, Kej. 28:10-17). Dalam perjumpaan itu, Tuhan memberikan kesempatan kepada Salomo untuk mengajukan permintaan kepada-Nya.

Kadang-kadang mimpi sengaja dicari di tempat-tempat suci untuk mendapatkan petunjuk dari Allah, tetapi mimpi Yakub di Betel merupakan kejadian yang sama sekali tidak diminta atau diharapkan. Dalam tidurnya, ia bermimpi bahwa di bumi didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Mimpi Yakub ini menjelaskan makna tempat ibadat. Para malaikat yang turun dari langit menyampaikan wahyu dan firman Allah, sedangkan para malaikat yang naik mempersembahkan jawaban serta doa-doa manusia. Demikianlah maksud tempat peribadatan: tempat surga dan dunia bertemu, tempat manusia bertemu dengan Allah.

(Bersambung)