Penasaran Saja Tidak Cukup

Senin, 4 Maret 2019 – Hari Biasa Pekan VIII   

132

Markus 10:17-27

Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

***

Ketika calon-calon imam berada dalam masa pembinaan, para pembimbing biasanya rajin mengingatkan mereka agar dalam kegiatan merasul jangan sampai tergoda untuk mewartakan diri mereka masing-masing. Nasihat itu tentu berangkat dari kenyataan yang bisa saja sudah dialami atau disaksikan sendiri oleh para pembimbing tersebut. Tanpa kehati-hatian, para rohaniwan bisa jatuh ke dalam kecenderungan mengejar popularitas diri. Mereka tidak lagi mewartakan Yesus dan Kerajaan-Nya, tetapi malah mewartakan diri sendiri dan “kerajaan” mereka masing-masing.

Hal tersebut sangat relevan dengan sabda Tuhan yang disampaikan kepada kita hari ini. Yesus dikisahkan menerangkan syarat-syarat untuk memperoleh hidup kekal kepada orang yang berlari-lari mendapatkan Dia. Orang itu sekilas tampak sebagai sosok yang sempurna. Kepada Yesus ia katakan bahwa semua syarat yang disebutkan-Nya sudah ia lakukan dalam hidup sehari-hari. Akan tetapi, orang yang merindukan kekudusan ternyata tidak otomatis sanggup menjadi pribadi yang kudus. Orang yang menyebut dirinya kudus dan sempurna bisa jadi dalam kenyataan malah jauh dari apa yang ia katakan itu.

Ketika orang itu berkata bahwa dirinya telah berbuat baik dan menjauhi segala yang jahat – tidak membunuh, berzina, mencuri, dan mengucapkan saksi dusta – dengan segera kita menilai bahwa ia telah layak untuk mengalami hidup kekal. Namun, ketika Yesus meminta orang itu untuk menjual hartanya dan membagikannya kepada orang-orang miskin, kekecewaan orang itu membuat kita mengubah penilaian sebelumnya. Kita bertanya-tanya, “Mengapa orang yang tadinya sangat penasaran dengan kekudusan begitu gampang menyerah untuk menjadi kudus bila harus memberikan apa yang ia miliki kepada orang lain?”

Di sanalah letak permasalahannya. Orang itu tampaknya menyangka bahwa mencari Kerajaan Allah sama dengan mencari harta kekayaan bagi dirinya sendiri. Dia berpikir bahwa hidup kekal akan ia dapatkan melalui apa yang ia lakukan dan perjuangkan, terutama barangkali dengan pelaksanaan peraturan-peraturan agama. Bagi orang itu, melakukan yang baik sejauh menguntungkan bagi dirinya sendiri sama sekali bukan masalah. Masalahnya, Yesus ternyata mengatakan bahwa bagian terpenting dari pantas tidaknya seseorang menerima hidup kekal adalah sikapnya terhadap orang lain. Orang bahkan dituntut untuk sanggup merugi demi orang lain. Mendengar itu, orang yang sebelumnya penuh semangat tersebut pergi dengan sedih hati. Hal seperti itu sama sekali jauh dari pikiran dan dugaannya.

Untuk menjadi kudus dan untuk menerima hidup kekal rupanya tidak cukup hanya dengan rasa penarasan. Tidak cukup pula kalau kita hanya merindukan, membicarakan, dan memikirkannya. Kekudusan harus diusahakan secara nyata. Sementara itu, layak tidaknya kita menerima hidup kekal sangat ditentukan oleh gerakan dan kesanggupan kita untuk semakin keluar dari diri kita sendiri. Kita harus semakin tidak berarti bagi diri sendiri, dan sebaliknya harus semakin berharga dan bermakna bagi orang banyak.