Pengorbanan Yesus dan Stefanus

Selasa, 7 Mei 2019 – Hari Biasa Pekan III Paskah

210

Yohanes 6:30-35

Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari surga.”

Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari surga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari surga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

***

Silang pendapat antara Stefanus dan orang-orang Yahudi memuncak (bacaan pertama hari ini, Kis. 7:51 – 8:1a). Di pengadilan, Stefanus mencela mereka sebagai orang-orang yang keras kepala, keras hati, dan tuli. Persis seperti nenek moyang mereka dulu, orang-orang itu berlaku jahat dengan menentang karya Roh Kudus. Kemarahan para lawan meledak ketika Stefanus menyatakan bahwa dirinya melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah. Menganggap hal itu sebagai penistaan agama, langsung saja Stefanus mereka bunuh dengan cara dilempari batu.

Meskipun namanya “pengadilan,” pengadilan di dunia sering kali mempertontonkan ketidakadilan. Dalam banyak kasus, yang menang bukan pihak yang benar, melainkan yang kuat, yang berkuasa, dan yang punya banyak uang. Penampakan ilahi yang dilihat Stefanus adalah kritik atas situasi tersebut. Sidang yang dijalani Stefanus adalah sidang yang penuh tekanan, kepalsuan, dan ketidakadilan. Untuk itu Allah, Hakim yang adil, hadir sebagai tanda bahwa kebenaran ada di pihak Stefanus.

Kehadiran Kabar Baik memang sering kali tidak disambut ramah oleh dunia. Yesus juga mengalami hal itu. Orang-orang yang keras hati dan tuli tidak percaya kepada-Nya dan  menuntut-Nya untuk memberi tanda. Yesus lalu dibanding-bandingkan dengan Musa. Musa bisa memberikan roti ketika nenek moyang mereka kelaparan di padang gurun, lalu apa yang bisa diberikan Yesus? Mereka harus tahu bahwa demi hidup mereka, Yesus rela memberikan nyawa-Nya!

Demikianlah dua tokoh yang muncul dalam bacaan kita hari ini, Yesus dan Stefanus, bersedia menyerahkan segalanya demi terwujudnya karya keselamatan Allah di dunia. Siapkah kita melakukan hal yang sama?