Bait Kudus Allah

Jumat, 22 November 2019 – Peringatan Wajib Santa Sesilia

140

Lukas 19:45-48

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.”

Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

***

Hari ini kita merayakan Peringatan Wajib Santa Sesilia. Santa Sesilia meninggal sebagai martir pada tahun 230. Kisah tentang dirinya membantu kita dalam merenungkan bahwa hati manusia adalah Bait Kudus Allah sendiri.

Santa Sesilia adalah teladan gadis Kristen sejati. Ia menjadikan hidupnya sebagai madah pujian bagi Tuhan. Sesilia yang tengah menginjak masa remaja dengan tegas dan gembira memilih untuk tetap perawan. Ia lebih memilih mati daripada menyangkal cinta sejatinya kepada Kristus. Dengan itu, Santa Sesilia memberikan teladan kepada kita bagaimana menjadikan hati kita sebagai Bait Kudus Allah, yang isinya melulu hormat dan pujian bagi kemuliaan-Nya.

Apabila kita membayangkan struktur bangunan Bait Allah di Yerusalem, kita akan terbantu menggambarkan bagaimana gambaran hati manusia. Bangunan Bait Allah terdiri dari empat bagian. Bagian yang paling suci adalah Tabut Perjanjian (kemudian diadaptasi dalam pembangunan gedung gereja yang menjadikan tabernakel sebagai bagian yang paling suci). Bagian kedua adalah altar. Bagian ketiga adalah tempat umat Allah berhimpun. Bagian keempat adalah halaman.

Empat bagian itu pararel dengan hidup manusia. Bagian yang tersuci adalah Roh Kudus yang bersemayam dalam hati manusia. Bagian kedua adalah roh. Bagian ketiga adalah jiwa. Bagian keempat adalah tubuh. Halaman Bait Allah melambangkan dimensi ketubuhan manusia yang memiliki kecenderungan terhadap nafsu dan dosa.

Dengan memahami struktur tersebut, kita disadarkan untuk senantiasa membiarkan Roh Allah agar bersemayam di dalam hati kita untuk memimpin hidup kita. Jangan berlaku sebaliknya, yakni dimensi ketubuhan menjadi panglima dalam memimpin kecenderungan hati kita. Bait Allah bagi kita bukan lagi bangunan di Yerusalem, melainkan hati kita sendiri.

Kita bersyukur menjadi anggota Gereja Katolik yang amat kaya akan sakramen keselamatan. Gereja Katolik juga kaya akan teladan para kudus. Para santo dan santa, termasuk Santa Sesilia yang kita peringati hari ini, telah memberikan teladan nyata bagaimana Roh Allah telah menjadi panglima dalam hidup mereka.