Belum Pernah Mendengar tentang Roh Kudus

Senin, 18 Mei 2026 – Hari Biasa Pekan VII Paskah

6

Kisah Para Rasul 19:1-8

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh udus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang.

Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah.

***

Paulus tiba di Efesus dan mendapati dua belas orang murid. Walaupun disebut “murid”, mereka bukanlah orang yang percaya pada Yesus Kristus. Mereka telah menerima baptisan Yohanes, yaitu baptisan pertobatan sebagai persiapan menyambut datangnya Kristus. Namun, mereka belum mengetahui bahwa Kristus sudah datang, bahkan sudah menyelesaikan tugas-Nya untuk menyelamatkan manusia di kayu salib. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang diajar oleh Apolos sebelum ia menerima penjelasan dari Akwila dan Priskila mengenai jalan Tuhan.

Ketika Paulus bertanya apakah mereka sudah menerima Roh Kudus, mereka menjawab bahwa mereka bahkan belum pernah mendengar tentang keberadaan Roh Kudus. Tentu saja mereka belum mendengar tentang Roh Kudus karena mereka dibaptis dengan baptisan Yohanes. Kemudian Paulus menggunakan kesempatan ini untuk memberitakan tentang Yesus kepada mereka. Ia mengatakan bahwa Yohanes sendiri memberitakan bahwa sesudah dia akan datang pribadi yang jauh lebih berkuasa daripada dia. Karena itu, orang yang mengikuti Yohanes harus percaya kepada Yesus yang kedatangan-Nya diwartakan oleh Yohanes.

Dua belas orang itu percaya kepada ucapan Paulus, dan ini berarti mereka menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Mereka lalu memberi diri dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Paulus menumpangkan tangan atas kedua belas orang itu. Dengan tindakan simbolis ini, Paulus secara resmi mengakui mereka sebagai bagian dari tubuh Kristus. Dengan tindakan ini, sebagai rasul Kristus, Paulus menyalurkan berkat Tuhan, yakni karunia Roh Kudus, kepada orang percaya. Roh Kudus pun turun atas mereka, sehingga mereka mulai berbicara dalam bahasa roh. Dalam peristiwa ini, bahasa roh berfungsi sebagai tanda lahiriah atau bukti bagi Paulus dan jemaat lainnya bahwa dua belas orang itu benar-benar telah menerima Roh Kudus yang sama dengan yang diterima oleh para rasul di Yerusalem.

Kehidupan orang yang percaya kepada Kristus tidak terbatas pada melakukan rutinitas sehari-hari dan setia pada aturan moral. Dua hal itu jelas merupakan hal penting bagi para pengikut Kristus, tetapi belum cukup. Pada dasarnya, iman kristiani merupakan relasi dengan Kristus yang mengasihi manusia. Ketika dibaptis, seseorang menerima Roh Kudus yang hadir dalam dirinya. Roh Kudus membantunya mengalami kehadiran Kristus dan hidup menurut kehendak Kristus yang mengasihinya. Orang beriman perlu menyadari pentingnya bimbingan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari.