Unta Masuk Lubang Jarum?

Minggu, 10 Oktober 2021 – Hari Minggu Biasa XXVIII

58

Markus 10:17-30

Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”

***

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya, seseorang datang kepada-Nya untuk menanyakan apa yang harus ia perbuat agar dapat memperoleh hidup kekal. Yesus menanggapi pertanyaan itu dengan mengutip beberapa perintah dari sepuluh firman Allah. Kalau orang itu memenuhi sepuluh firman Allah, ia akan masuk ke dalam hidup kekal. Dengan penuh keyakinan, orang itu menyatakan bahwa sejak masa mudanya, ia telah melaksanakan perintah-perintah itu. Ini berarti ia yakin akan memperoleh hidup kekal. Namun, selain semua itu, Yesus menunjukkan satu syarat lain yang harus dipenuhi, yakni menjual seluruh harta milik dan membagi-bagikan uang hasil penjualan itu kepada orang miskin. Hanya dengan demikian, ia akan memperoleh harta dalam Kerajaan Allah. Setelah itu, ia harus kembali kepada Yesus dan mengikuti-Nya.

Mendengar persyaratan yang diajukan Yesus, orang itu menjadi muram dan pergi dengan sedih. Ia ingin memperoleh hidup kekal dan Yesus telah menunjukkan jalan yang harus dilalui untuk memperolehnya. Mengapa ia justru sedih? Karena hartanya banyak dan ia tidak rela melepaskan hartanya itu. Orang Yahudi berpandangan bahwa kekayaan, keturunan, dan umur panjang merupakan ganjaran yang diberikan Allah kepada orang-orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Kesejahteraan hidup di dunia yang mereka nikmati adalah pendahuluan dari kesejahteraan abadi yang akan mereka terima sesudah kehidupan di dunia ini. Namun, Yesus justru meminta orang itu menjual seluruh harta miliknya. Baginya, perintah tersebut sama dengan perintah untuk membuang ganjaran Allah yang menjadi bukti bahwa ia adalah orang baik dan bahwa hidupnya berkenan kepada-Nya. Bagi orang itu, harta benda memiliki ciri religius, tetapi Yesus mencabutnya. Orang itu pergi karena tidak dapat menerima pandangan Yesus mengenai kekayaan.

Kejadian ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar para murid-Nya. Amat sulit bagi seorang kaya, yang memiliki banyak harta, untuk masuk Kerajaan Allah. Demikian sulitnya, sehingga lebih mudah bagi seekor unta untuk masuk ke dalam lubang jarum daripada seorang kaya masuk Kerajaan Surga. Mendengar pernyataan Yesus itu para murid tercengang. Kalau orang kaya saja, yang diyakini sebagai orang baik dan karena itu mendapatkan berkat dari Allah, sulit untuk selamat, lalu siapa yang dapat selamat?

Tentang kekayaan, rupanya pandangan para murid sama dengan pandangan orang kaya itu. Namun, persoalan yang sebenarnya tidak terletak pada milik yang harus dijual karena menghalangi keselamatan, tetapi pada sikap dan penilaian terhadap kekayaan itu. Yesus mengingatkan bahwa kekayaan (dan kemiskinan) tidak mempunyai ciri religius. Kekayaan bukanlah “upah” yang diterima karena orang berbuat baik, sebagaimana kemiskinan bukanlah kutuk dari-Nya. Kalau kekayaan dianggap sebagai ganjaran pendahuluan dari perbuatan baik, kehidupan kekal pun berarti upah yang diberikan atas perbuatan baik seseorang. Bagi Yesus, posisi sosial, baik tinggi maupun rendah, bukanlah jaminan keselamatan. Keselamatan atau kehidupan kekal bukanlah hasil kerja keras manusia, melainkan anugerah Allah yang nyata dalam diri-Nya.