Ragi Orang Farisi

Jumat, 15 Oktober 2021 – Peringatan Wajib Santa Teresia dari Yesus

48

Lukas 12:1-7

Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun darinya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

***

Yesus mengingatkan para murid-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” Ragi adalah bahan yang digunakan untuk membuat roti, fungsinya untuk membuat adonan mengembang. Namun, jika adonan yang diberi ragi itu dibiarkan saja, tidak dimasak, adonan itu akan membusuk. Markus (Mrk. 8:15) dan Matius (Mat. 16:11) juga menyampaikan peringatan ini, dan menurut Matius, ragi itu merupakan kiasan untuk ajaran orang Farisi (Mat. 16:12). Dalam Injil Lukas, Yesus menggunakan ragi sebagai kiasan untuk kemunafikan orang Farisi.

Kata hypokris (= munafik) sebenarnya berarti “bermain sandiwara”, dan kata hypokrites (= orang munafik) sebenarnya berarti “pemain sandiwara”. Orang munafik melakukan hal yang lain daripada yang mereka katakan. Dalam bidang keagamaan, mereka adalah orang-orang yang secara sadar berpura-pura menjadi orang saleh semata-mata agar dipuji dan dihormati orang lain. Mereka “bersandiwara”, sehingga tindakan keagamaan yang mereka lakukan sebenarnya tidak mempunyai nilai apa pun. Sebagian orang Farisi dikecam oleh Yesus karena sikap mereka yang seperti ini. Mereka mengajarkan hukum Taurat, tetapi tidak melakukannya.

Orang Farisi menjalani hidup keagamaan dengan penuh sandiwara. Di satu sisi, di mata orang banyak, mereka tampak menjalankan aturan-aturan keagamaan, sehingga seolah-olah taat kepada Allah dan dekat dengan-Nya. Namun, di sisi lain, perilaku mereka justru menunjukkan bahwa mereka tidak hidup menurut kehendak Allah. Mereka mengecam Yesus yang menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, tetapi mereka sendiri pada hari Sabat membawa lembu atau keledai ke tempat minuman, serta menarik keluar lembu kalau terperosok ke dalam sumur.

Seperti ragi dapat membuat adonan menjadi roti, demikianlah orang Farisi dapat memberi pengaruh buruk kepada orang-orang yang bergaul dengan mereka atau yang mendengarkan ajaran mereka. Perkataan dan cara hidup mereka dapat membuat orang lain ikut berlaku munafik. Karena itu, Yesus mengingatkan agar para murid waspada terhadap mereka. Jangan sampai para murid terpengaruh oleh ajaran dan perilaku mereka, sehingga ikut bersandiwara dalam menjalani hidup keagamaan.

Orang munafik akan berlaku buruk secara tersembunyi supaya tidak dilihat, dan berlaku baik secara terbuka supaya dilihat. Namun, Yesus mengingatkan bahwa semua keburukan yang dikatakan atau dilakukan secara tersembunyi oleh orang munafik akan diberitahukan secara terbuka, sehingga orang banyak akan mengetahuinya. Di hadapan Allah, tidak ada sesuatu pun yang dapat disembunyikan oleh manusia.