Memberi Itu Sulit

Senin, 22 November 2021 – Peringatan Wajib Santa Sesilia

62

Lukas 21:1-4

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

***

Seorang teman bercerita tentang kesulitan ekonomi keluarganya selama pandemi. Ia mengalami pemotongan gaji sebesar lima puluh persen. Karena itu, ia mesti mengatur kembali belanja rumah tangganya. Ia harus lebih hemat. Suatu ketika, seseorang datang kepadanya dengan maksud meminjam sejumlah uang dalam jumlah yang cukup besar untuk pengobatan sang anak. Teman saya ini menjadi bingung. Kalau ia membantu orang itu, ia harus “mengikat pinggang” lebih kencang lagi. Kalau ia tidak membantu, anak temannya itu tidak bisa berobat. Setelah berdiskusi dengan istrinya, ia akhirnya membantu orang itu. Seminggu kemudian, ia dipromosikan untuk jabatan yang lebih tinggi dengan gaji yang lebih tinggi lagi.

Ketika kita berkelimpahan, memberi terasa begitu mudah. Kita pasti tidak berpikir panjang dalam membantu seseorang, sebab masih banyak yang kita miliki. Namun, di saat kita berkekurangan, memberi terasa begitu berat, sebab kita harus berkorban sama seperti janda miskin yang memberi persembahan dalam bacaan Injil hari ini. Janda tersebut memasukkan semua nafkahnya ke dalam kotak persembahan. Hal itu berarti dirinya berkorban luar biasa. Ia mungkin tidak bisa makan atau harus berusaha lebih keras lagi agar bisa membeli makanan. Namun, risiko itu ia ambil demi memberikan persembahan. Totalitasnya membuat Yesus menyatakan bahwa persembahan janda itu jauh lebih bernilai daripada yang lain.

Memberi bukanlah soal punya atau tidak punya, melainkan soal mau atau tidak mau. Kita pasti punya sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain, sekecil apa pun itu. Ketika kita rela memberi, berarti kita rela berkorban juga. Kita akan kehilangan sesuatu dan mengambil risiko tertentu. Namun, sadarilah bahwa tindakan kita tidak akan sia-sia. Yesus memperhatikan pengorbanan kita. Sebagaimana Yesus memuji janda yang miskin itu, Ia juga akan mengapresiasi pemberian kita. Yesus tidak hanya diam dan menonton, tetapi akan menolong kita, sebab Ia berbelas kasihan. Kalau kita saja rela memberi dari kekurangan kita, apalagi Yesus. Ia pasti memberi kepada kita lebih besar daripada segala sesuatu yang kita berikan.