Menghidupi Kabar Sukacita

Rabu, 12 Januari 2022 – Hari Biasa Pekan I

61

Markus 1:29-39

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

***

Dalam sebuah buku yang terbit tahun 1640, seorang penulis menulis pepatah ini: Non coerceri a maximum, contineri tamen in minimo, hoc divinum est. Menerjemahkan pepatah tersebut tidak mudah, tetapi maknanya kurang lebih demikian: Jangan biarkan diri kita dibatasi oleh hal-hal yang paling besar, namun ketahuilah bagaimana kita memasukkan diri kita ke dalam hal-hal yang paling kecil, sebab ini adalah sesuatu yang ilahi. Dalam arti tertentu, hal itu berarti: Hidup dalam dimensi universal, namun bertindak secara partikular, adalah sesuatu yang ilahi.

Ini adalah juga misteri Kristus, sebab Dia yang mahabesar melampaui semua batas yang mungkin, keagungan Tuhan yang tak terkira, keagungan ilahi yang tidak dapat digantikan atau dihalangi oleh apa pun, telah ditemukan dalam bentuk yang paling kecil, yakni tubuh dan hati dari sang Sabda, yang berinkarnasi di tempat tertentu dalam sejarah. Dalam visi misteri Kristus ini, Santo Ignatius Loyola mengambil suatu cara bertindak: Dengan mengikuti Kristus, benamkan diri kita dalam karya-karya konkret, sesuai dengan kemungkinan dan kemampuan kita, dan dengan hati yang terhubung pada Tuhan yang tak terbatas, yang menghadirkan suatu cakrawala luas dari rencana keselamatan-Nya, di sini dan saat ini.

Yesus bertindak konkret: Ia memberitakan Injil, menyembuhkan orang yang menderita penyakit, dan mengusir banyak setan. Pada zaman ini, kita pun diundang untuk turut serta dalam visi Yesus memberitakan Injil. Paling tidak ada tiga hal konkret yang dapat kita tekuni dalam mengikuti Yesus, yakni berjalan bersama orang miskin, orang yang terbuang, dan orang yang martabatnya dirampas; berjalan bersama orang muda dalam menciptakan masa depan yang penuh harapan; dan bekerja sama dalam merawat bumi, rumah kita bersama.

Diolah dari Arturo Sosa SJ, Berjalan Bersama Ignatius (Yogyakarta: Kanisius, 2021).