Persembahan Diri Sang Mesias

Jumat, 2 Februari 2024 – Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

63

Lukas 2:22-40

Dan ketika genap waktu penahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lagi pula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

***

Setelah kelahiran Yesus, kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Meskipun Putra Allah, Yesus lahir sebagai manusia dan dibesarkan layaknya anak manusia pada umumnya. Bersama dengan Maria, sang ibu, dan Yusuf, sang ayah, Putra Allah mendapatkan keluarga yang baik. Lingkungan tempat anak dibesarkan dan bagaimana pola asuh dari orang tua memang penting dan sangat berperan dalam perkembangan anak nantinya. Ini pun ditegaskan oleh Gereja dengan perayaan Keluarga Kudus. Maria, bukanlah ibu biasa. Ketaatannya pada Allah tidak diragukan lagi. Yusuf pun demikian. Meskipun dalam Injil ia tidak pernah digambarkan berbicara, dengan setia semua rencana Allah dilaksanakannya dalam senyap. Maria dan Yusuf dipercaya untuk mengemban misi besar Allah, yaitu mempersiapkan sang Putra hingga tiba saat-Nya untuk berkarya.

Hari ini kita merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah. Sebagai orang tua yang baik, Maria dan Yusuf pun taat pada Taurat dan tradisi saat itu. Setelah genap delapan hari, Yesus pun disunatkan dan diberi nama seperti yang telah disebutkan oleh malaikat saat Maria mengandung. Menurut tradisi Israel, setiap anak, khususnya anak laki-laki yang sulung, harus dikuduskan bagi Allah. Maria dan Yusuf pun mempersembahkan Yesus ke Bait Allah. Tindakan itu bukan hanya sebagai bukti ketaatan mereka, melainkan juga sebagai bukti iman mereka kepada Allah, sang pemberi hidup. Dengan mempersembahkan Yesus di Bait Allah, Maria dan Yusuf menyerahkan hidup anak mereka sepenuhnya untuk melayani Allah. Upacara persembahan ini juga merupakan bentuk pengosongan diri sang Putra menjadi manusia, sekaligus teladan kerendahan hati-Nya.

Adalah seorang tua di Yerusalem yang bernama Simeon, yang telah lama menanti-nantikan kedatangan Mesias dari Tuhan. Roh Kudus telah menyatakan padanya bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat sang Mesias. Karena itu, ketika bayi Yesus tiba di Bait Allah dibawa oleh kedua orang tua-Nya, Simeon menyambut, menggendong-Nya, dan memuji Allah. Simeon juga memberikan nubuat mengenai Yesus pada Maria, dan bahwa pedang akan menembus jiwa Maria. Selain itu, ada seorang perempuan tua bernama Hana yang setia berada di Bait Allah. Siang malam ia berpuasa dan berdoa. Ia pun mengucap syukur pada Allah saat bertemu bayi Yesus, dan membicarakan Yesus pada semua orang yang menantikan pembebasan.

Simeon dan Hana mewartakan bahwa sang Mesias berasal dari Tuhan. Dia adalah pemenuhan janji-janji Tuhan yang dahulu disampaikan melalui para nabi. Harapan akan keselamatan umat Allah ada pada diri-Nya. Mesias tidak mengalahkan lawan demi memenangkan golongan-Nya saja. Sebaliknya, Ia adalah penyelamat dunia yang akan menimbulkan perbantahan; yang bukan hanya membangkitkan, tetapi juga akan menjatuhkan banyak orang. Melalui cara itulah Ia akan mengantar kita pada keselamatan sejati yang dijanjikan Allah kepada umat-Nya. Kita hanya perlu memohon pertolongan Roh Kudus, agar mampu terus setia menunggu dan menyambut kedatangan-Nya kelak, seperti halnya Simeon dan Hana.