Dipanggil Menjadi Kudus

Sabtu, 17 Januari 2026 – Peringatan Wajib Santo Antonius

7

Markus 2:13-17

Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

***

Membaca dan merenungkan bacaan Injil hari ini, saya teringat pada pernyataan Paus Fransiskus dalam salah satu katekese saat audiensi umum di Lapangan St. Petrus, tanggal 13 April 2016. Bapa Suci berkata, “Tidak ada orang kudus tanpa masa lalu, dan tidak ada pendosa tanpa masa depan. Yang diperlukan hanyalah menjawab undangan Tuhan dengan rendah hati dan tulus. Gereja bukanlah komunitas orang sempurna, melainkan para murid yang sedang berjalan, yang mengikuti Tuhan karena mereka menyadari diri sebagai pendosa dan membutuhkan pengampunan-Nya. Hidup kristiani dengan demikian adalah sebuah sekolah kerendahan hati yang membuka diri kita pada rahmat.”

Yesus hari ini dikisahkan berjumpa dengan Lewi, seorang pemungut cukai. Ia memanggil pemungut cukai itu untuk mengikut Dia. Kemudian Yesus pergi ke rumah Lewi dan duduk makan bersama-sama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa. Tindakan Yesus itu membuat para ahli Taurat dan orang Farisi merasa risi dan kesal.

Seandainya ada daftar orang-orang yang paling dibenci pada zaman Yesus, pemungut cukai pasti akan berada di puncak daftar tersebut. Pertama, karena mereka bekerja bagi penjajah Romawi, sehingga mereka dianggap sebagai pengkhianat yang tak termaafkan. Kedua, pemungut cukai merupakan profesi yang paling dibenci, sebab layaknya pencuri, mereka mengeruk keuntungan dari pajak yang dikumpulkan.

Namun, Yesus justru memanggil Lewi untuk mengikut Dia. Ia bahkan bersedia duduk semeja dengan para pemungut cukai, teman-teman Lewi. Berhadapan dengan kritik para ahli Taurat dan orang Farisi, Yesus menegur balik mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak menilai kita dari masa lalu, kegagalan, dan dosa-dosa kita. Yesus melihat lebih dalam dari penampilan luar Lewi, sehingga Ia memanggil Lewi untuk mengikut Dia. Undangan sederhana ini mengubah seluruh hidup Lewi. Tuhan selalu melihat potensi, kekuatan, dan kebaikan yang masih bisa bertumbuh kembang dalam diri kita. Ia datang untuk menyembuhkan, bukan menghakimi; untuk merangkul, bukan mengucilkan. Kadang kita merasa tidak pantas untuk datang kepada Tuhan karena kelemahan dan dosa kita. Namun, justru saat itulah kita membutuhkan belas kasihan-Nya. Yesus tidak mengecualikan Lewi maupun orang-orang lain yang dianggap berdosa untuk menunjukkan bahwa mereka pun bisa bertobat dan menjadi pengikut-Nya. Ia tidak melihat masa lalu mereka, tetapi Ia membuka jalan bagi mereka untuk masa depan yang baru.

Cara Yesus merangkul Lewi menantang kita untuk menjadi pribadi yang berbelaskasihan, alih-alih menjadi hakim atas hidup orang lain. Semoga kita semakin mampu melihat diri kita dan orang lain dengan pandangan kasih Tuhan, pandangan yang penuh kasih, persaudaraan, dan pengharapan. Melalui teladan Lewi, kita pun diundang untuk membuka diri terhadap panggilan Tuhan dan menerima kasih-Nya yang merangkul kita semua apa adanya. Kekudusan tidak hanya diperuntukkan bagi segelintir orang terpilih. Kita semua dipanggil untuk hidup kudus.