Kemunafikan Para Pemimpin Agama

Selasa, 3 Maret 2026 – Hari Biasa Pekan II Prapaskah

72

Matius 23:1-12

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

***

Yesus berbicara kepada orang banyak dan murid-murid-Nya tentang kemunafikan para pemimpin agama Yahudi, khususnya ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, yang menjadi lawan utama-Nya. Ada lima karakter mereka yang dikritik dan dikecam Yesus dalam bacaan Injil hari ini: Tidak melakukan apa yang mereka ajarkan atau khotbahkan; mengikat beban hukum dan peraturan yang berat bagi orang lain, sedangkan mereka sendiri tidak bisa melakukannya; suka pamer kesalehan dengan menampilkan hal-hal yang bersifat fisik-lahiriah; senang dan menikmati gelar-gelar religius karena mendapat penghargaan atau penghormatan; serta salah memahami tugas pengajaran dan pewartaan hukum Taurat karena tidak melihatnya sebagai sebuah kesempatan untuk melayani, tetapi sebagai kesempatan untuk mendapat pengakuan dan penghormatan.

Mengapa Yesus berbicara tentang kemunafikan para pemimpin agama Yahudi kepada para murid-Nya? Hal ini mungkin karena kemunafikan tersebut juga muncul dalam kehidupan jemaat kristiani dan para pemimpin Gereja pada zaman Matius dan zaman kita, sehingga perlu diwaspadai dan dihindari. Para pemimpin agama Yahudi ditampilkan sebagai contoh negatif yang tidak boleh ditiru atau diikuti oleh para pemimpin Kristen, sebab mereka tidak melakukan apa yang mereka ajarkan.

Meski sikap dan tindakan para pemimpin agama Yahudi ditelanjangi dan ditentang habis-habisan karena munafik, namun firman Allah yang mereka ajarkan dan wartakan tetap berlaku. Posisi mereka sebagai pengajar firman Allah yang menduduki kursi Musa juga tetap berlaku, sehingga apa yang mereka ajarkan tetap harus didengarkan karena memang benar. Yang tidak boleh ditiru adalah perilaku hidup mereka karena mereka tidak berbuat seperti yang mereka sendiri ajarkan.

Keluhan utama Yesus bukanlah tentang apa yang diajarkan oleh orang Farisi, melainkan kegagalan mereka mempraktikkan apa yang diajarkan. Melalui perintah ini, Yesus ingin mengajak kita sebagai para murid-Nya untuk berbicara dan bertindak secara konsisten. Kita perlu menyelaraskan antara omongan dan tindakan, antara iman dan praktik hidup sehari-hari. Kita juga perlu merenungkan motivasi kita dalam melakukan segala sesuatu, termasuk melakukan perbuatan baik. Kita juga diingatkan bahwa orang yang mencari jalan untuk mengagungkan diri sendiri dan mencari kehormatan pribadi akan direndahkan.