
Yohanes 6:51-58
“Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”
***
Ada banyak orang yang hidup dengan tubuh yang terlihat kuat. Mereka tersenyum, tertawa, sibuk bekerja, dan aktif berbicara dengan banyak orang. Namun, jiwa mereka sebenarnya lapar, lapar akan kasih, akan ketenangan, akan pengertian dari orang lain, dan akan harapan. Dunia menawarkan banyak hal untuk mengenyangkan hati manusia, tetapi sering kali semuanya hanya sementara. Setelah tertawa, hati kembali kosong. Setelah dipuji, jiwa tetap sepi. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, ternyata damai itu tidak tinggal dalam jangka waktu yang lama.
Di tengah kelaparan batin manusia itulah Yesus datang dan berkata, “Akulah roti hidup.” Yesus datang tidak hanya untuk memberi nasihat dan aturan-aturan dalam kehidupan. Ia memberikan diri-Nya sendiri. Ia tahu bahwa manusia tidak cukup hanya diberi kata-kata penghiburan. Manusia membutuhkan kehadiran Tuhan yang sungguh nyata untuk menguatkan hidup mereka.
Dalam Ekaristi, Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya sebagai santapan jiwa. Ini adalah kasih yang begitu dalam: Tuhan rela menjadi “makanan” bagi manusia. Ia yang Mahabesar justru merendahkan diri, agar dapat masuk ke dalam hati manusia yang rapuh. Kadang kita terbiasa menerima komuni kudus sampai lupa betapa besar misteri ini. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi memilih tinggal dalam diri manusia yang penuh kelemahan.
Namun, menjadi pertanyaan, apakah hati kita sungguh rindu kepada Tuhan? Ataukah kita hanya datang kepada-Nya karena kebiasaan? Sering kali manusia lebih lapar akan perhatian dunia daripada akan Tuhan. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengejar banyak hal, tetapi mudah merasa bosan saat berdoa beberapa menit. Kita mencari penghiburan dari manusia, tetapi lupa datang kepada Yesus yang sebenarnya memahami luka terdalam hidup kita.
Yesus berkata, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Tinggal di dalam Tuhan berarti membiarkan Tuhan hidup dalam pikiran, perkataan, dan tindakan kita. Ekaristi bukan hanya perayaan di altar, melainkan harus menjadi kehidupan sehari-hari. Setelah menerima tubuh Kristus, kita dipanggil menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih mengampuni, lebih rendah hati, dan lebih mengasihi.
Kadang hidup membuat iman kita terasa lelah. Ada doa yang belum dijawab. Ada air mata yang disembunyikan. Ada perjuangan yang tidak dimengerti siapa pun. Namun, bacaan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dalam setiap Ekaristi, Yesus selalu hadir dan berkata tanpa suara, “Aku tahu luka hatimu. Aku tahu beban hidupmu. Datanglah kepada-Ku dan tinggallah bersama-Ku.” Ekaristi adalah bukti bahwa Tuhan tidak ingin manusia berjalan sendirian. Bahkan ketika dunia mengecewakan, Tuhan tetap setia tinggal bersama kita.
Semoga setiap kali kita menyambut komuni kudus, hati kita tidak dingin dan biasa-biasa saja. Semoga kita sungguh sadar bahwa kita sedang menerima kasih Tuhan yang hidup. Semoga dari altar Tuhan, kita pulang dengan hati yang lebih kuat untuk menjalani hidup, sebab Kristus sendiri telah menjadi roti kehidupan bagi jiwa kita. Amin.










