Kudusnya Hari Sabat

Selasa, 20 Januari 2026 – Hari Biasa Pekan II

8

Markus 2:23-28

Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu — yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam — dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat.”

***

Pertentangan Yesus dengan para lawan-Nya semakin intens. Sekarang mereka beralih ke topik yang paling sensitif, yakni hari Sabat. Melanggar hari tersuci ini akan mendapat hukuman maksimal: Dirajam sampai mati. Persoalannya, bagaimana batas-batas aturan Sabat ini ditentukan? Itulah persoalan abadi dalam beragama: Sampai di titik manakah batas-batas sebuah hukum atau aturan mau ditarik ulur? Orang Farisi dalam bacaan Injil hari ini berpandangan minimalis: Fakta memetik gandum pada hari Sabat sudah cukup untuk disebut sebagai pelanggaran, apa pun alasannya.

Yesus tidak pernah menyangkal kekudusan hari Sabat. Ia hanya ingin agar hukum tentang hari Sabat menyentuh sampai pada inti dan motivasi yang terdalam. Hari Sabat adalah saat ketika Tuhan berhenti bekerja, memberkati hari itu, serta menyempurnakan ciptaan-Nya. Kelaparan (seperti juga cacat, sakit, kerasukan setan, dan sebagainya) adalah gejala kerusakan dan ketidaksempunaan manusia. Karena itu, memetik gandum untuk dimakan sebenarnya sesuai dengan inti dan maksud hari Sabat.

Peraturan hari Sabat sering kali dikaitkan juga dengan perbudakan di Mesir. Karena itu, orang Israel tidak boleh bekerja pada hari Sabat dan mempekerjakan orang tanpa hari istirahat. Jangan menjadi budak pekerjaan, budak target atau deadline, juga budak peraturan. Tujuan dari hukum Taurat, termasuk hukum Sabat, adalah kebaikan, keutuhan, dan kesempurnaan ciptaan, termasuk manusia. Semua yang dikuduskan bagi Tuhan (seperti roti sajian di Rumah Allah atau hari Sabat) tidak bernilai absolut pada dirinya sendiri, tetapi bernilai demi kemuliaan dan keutuhan manusia sebagai ciptaan Allah.

Manusia yang beragama mudah sekali menyakralkan aturan, memuja lembaga, dan memberhalakan pimpinan. Mudah sekali lembaga-lembaga keagamaan menjadi tidak manusiawi dan memperbudak manusia dengan dalih kasih dan pelayanan. Hari ini, Yesus menegaskan bahwa agama yang tidak manusiawi tidak akan pernah punya tempat dalam Kerajaan Allah yang tengah Ia hadirkan.