Mendefinisikan Ulang Kesalehan

Jumat, 20 Februari 2026 – Hari Jumat sesudah Rabu Abu

10

Matius 9:14-15

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

***

Kesalehan sering kali diukur dari terlaksananya praktik-praktik keagamaan: Orang yang saleh berarti mereka yang sering berdoa, berpuasa, dan bersedekah. Tanpa sadar, hal itu membuat kesalehan didasarkan pada ukuran kuantitas pelaksanaan praktik hidup beragama.

Ketika murid-murid Yohanes bertanya mengapa para murid Yesus tidak berpuasa, Yesus tidak menjawab dengan aturan baru. Ia justru menawarkan suatu perspektif yang baru. Yesus mulai dengan menggambarkan diri-Nya sebagai mempelai, dan para murid sebagai sahabat-sahabat mempelai. Dalam tradisi Yahudi, puasa dilarang saat ada pesta perkawinan, sebab pada dasarnya, puasa merupakan tanda ratapan dan duka, juga pertobatan.

Jawaban Yesus ini mendefinisikan kembali kesalehan. Kesalehan dilihat sebagai upaya untuk membangun kesatuan dengan Kristus, bukan sebagai ketaatan mekanis pada praktik ritual. Di sini, kesalehan tidak berpusat pada ritus tetapi pada relasi, tidak berpusat pada aturan tetapi pada kehadiran Kristus, serta tidak berpusat pada perbandingan, tetapi pada kedekatan personal.

Dalam konteks ini, puasa menjadi ungkapan kerinduan dan pengharapan. Hal ini yang tersirat dalam sabda Yesus bahwa akan datang saatnya para murid berpuasa. Dalam kekristenan, puasa dipahami sebagai upaya menanggapi kasih Allah, dan ungkapan kerinduan untuk bersatu dengan Kristus. Semoga lewat puasa sepanjang Masa Prapaskah ini, kasih dan kerinduan kita kepada Kristus semakin bertambah dari hari ke hari.