Mendefinisikan Ulang Kekudusan

Sabtu, 21 Februari 2026 – Hari Sabtu sesudah Rabu Abu

4

Lukas 5:27-32

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

***

Bagi orang Farisi, kekudusan berarti menjaga jarak. Menjauhi orang berdosa dianggap sebagai tanda kekudusan. Sebaliknya, mendekati orang berdosa berarti mencemarkan diri. Konsep kekudusan ini lahir dari kecenderungan melabeli sesama dengan kategori-kategori tertentu. Misalnya, label “orang berdosa” disematkan pada kelompok yang terpinggirkan secara sosial-religius seperti pemungut cukai. Karena cara pandang ini, orang Farisi mengecam tindakan Yesus memanggil Lewi.

Namun, Yesus punya sudut pandang yang berbeda. Bagi Yesus, kekudusan berarti transformasi hidup. Setiap orang dipanggil untuk bersatu dengan Allah. Orang yang berdosa perlu didekati agar bertobat, bukan malah dijauhi. Sikap Yesus ini didasari pada belas kasihan Allah yang berlaku bagi semua orang. Karena itu, ketika memanggil Lewi, Yesus menunjukkan belas kasihan Allah, serentak memberikan kesempatan bagi Lewi untuk bertobat.

Sikap Yesus menunjukkan bahwa kekudusan bukanlah sesuatu yang rapuh dan mudah tercemar. Justru sebaliknya, kekudusan memiliki daya transformasi yang lebih kuat daripada dosa. Daya itu berasal dari belas kasihan ilahi, bukan dari penilaian manusiawi, apalagi label-label sosial.

Masa Prapaskah adalah kesempatan khusus bagi kita untuk melakukan transformasi hidup. Pada Masa Prapaskah, panggilan kepada kekudusan intens diserukan. Semoga kita sungguh menanggapi panggilan ini dengan bertekun mengubah diri kita.