
Matius 10:7-13
“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.”
***
Yesus mengutus para murid-Nya untuk pergi membawa kabar keselamatan. Mereka tidak diutus dengan kemewahan, kekuatan besar, atau jaminan kenyamanan. Mereka diutus dengan kesederhanaan, dengan hati yang percaya penuh kepada Tuhan. Dari sini, kita belajar bahwa menjadi pengikut Kristus bukan pertama-tama soal kehebatan atau kesempurnaan, melainkan soal kesediaan dipakai oleh Tuhan.
Sering kali manusia merasa dirinya tidak cukup layak untuk menjadi alat Tuhan. Kita melihat terlalu banyak kelemahan dalam diri kita: Masa lalu yang kelam, hati yang masih rapuh, iman yang kadang naik turun, luka yang belum sembuh, atau dosa yang terus diulang. Namun, Tuhan justru sering memakai orang-orang yang kecil dan tidak sempurna untuk menghadirkan kasih-Nya.
Yesus berkata, “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan.” Bukan hanya tentang mukjizat secara fisik, ini adalah panggilan untuk menghadirkan kehidupan bagi jiwa-jiwa yang terluka. Di sekitar kita ada banyak orang yang sebenarnya sedang sakit dalam batin. Mereka mengalami kekecewaan, kehilangan harapan, merasa sendirian, merasa tidak dicintai, bahkan kehilangan alasan untuk bertahan hidup.
Kadang luka yang paling dalam tidak terlihat oleh mata. Ada orang yang setiap hari tersenyum, tetapi diam-diam lelah menghadapi hidup. Ada yang terlihat kuat, tetapi sebenarnya sedang berjuang melawan kehancuran dalam dirinya. Tuhan mengutus kita untuk membawa penghiburan bagi mereka, mungkin bukan melalui hal yang besar, melainkan melalui perhatian kecil, kata-kata yang menguatkan, kesediaan untuk mendengarkan, atau kehadiran yang tulus.
Yesus juga berkata, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Ini adalah undangan untuk mencintai tanpa hitung-hitungan. Dunia mengajarkan kita untuk memberi hanya kepada mereka yang bisa membalas, mengasihi hanya jika dihargai, dan peduli hanya jika dianggap penting. Namun, kasih Kristus berbeda. Ia memberi tanpa syarat.
Kadang manusia mudah berubah saat merasa tidak dihargai. Kita mulai merasa lelah berbuat baik karena kebaikan kita ternyata dibalas dengan luka. Kita kecewa karena ketulusan kita disalahpahami. Tidak jarang hati kita bahkan perlahan menjadi dingin karena terlalu sering kecewa. Namun, Yesus hari ini mengingatkan kita bahwa kebaikan sejati tidak bergantung pada respons orang lain. Kebaikan yang berasal dari Tuhan tetap memilih untuk mengasihi, bahkan ketika tidak dimengerti.
Yesus juga meminta murid-murid-Nya untuk pergi tanpa membawa banyak bekal. Ini bukan sekadar tentang kemiskinan, melainkan tentang kepercayaan total kepada penyelenggaraan Tuhan. Sering kali manusia ingin merasa aman dengan kekuatannya sendiri, sehingga bergantung pada uang, relasi, jabatan, atau kemampuan pribadi. Namun, ada saat-saat tertentu dalam hidup kita ketika Tuhan membiarkan kita berada dalam keterbatasan supaya kita belajar bahwa hanya Dialah sumber kekuatan sejati. Ada masa di mana hidup terasa tidak pasti, rencana-rencana kita gagal, dan apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Hati kita lelah karena terus berjuang. Pada saat itulah Tuhan mengajar kita untuk percaya, bahkan ketika kita tidak mengerti jalan-Nya.
Ketika para murid masuk ke sebuah rumah, mereka diminta membawa damai. Betapa dunia hari ini begitu haus akan damai. Banyak rumah dipenuhi pertengkaran. Banyak hubungan dipenuhi ego dan luka. Banyak hati dipenuhi kecemasan dan kemarahan. Karena itu, menjadi murid Kristus berarti menghadirkan damai, bukan menambah luka; menjadi pribadi yang menenangkan, bukan yang memperkeruh keadaan.
Pada akhirnya, kita diingatkan bahwa hidup orang beriman bukan hanya tentang datang ke gereja atau berdoa, melainkan terutama tentang menjadi saluran kasih Tuhan bagi sesama. Sebagian orang mungkin tidak berkesempatan membaca Kitab Suci, tetapi mereka membaca Tuhan melalui hidup kita.










