Penghakiman yang Berbelaskasihan

Senin, 22 Juni 2026 – Hari Biasa Pekan XII

12

Matius 7:1-5

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

***

Mudah sekali bagi kita yang hidup pada zaman ini untuk menghakimi orang lain, bahkan seandainya orang itu tidak kita kenal sama sekali. Lihatlah di berbagai media sosial, di mana kolom komentar sering kali menjadi ajang penghakiman yang kejam dan tidak berperasaan. Ketika seseorang dirasa melakukan atau mengatakan sesuatu yang keliru, segera saja netizen menyerbunya dengan kecaman, caci maki, dan kata-kata kasar. Reaksi ini biasanya spontan, tidak memperhatikan konteks, serta tidak ditelaah terlebih dahulu. Penghakiman yang dijatuhkan berat sebelah karena tidak didasari oleh pemahaman yang berimbang.

Bagi siapa saja yang suka melakukan itu, ajaran Yesus hari ini patut diperhatikan. Yesus kali ini berbicara tentang penghakiman. Pengajaran ini merupakan kelanjutan dari pengajaran-Nya tentang Doa Bapa Kami (Mat. 6:9-13), yang antara lain mendorong orang untuk mengampuni sesamanya. Pengampunan seseorang terhadap orang lain menjadi syarat pengampunan Bapa terhadap dirinya sendiri. Sejalan dengan itu, Yesus mengajak kita untuk tidak menghakimi supaya Bapa juga tidak menghakimi kita. Dengan ini, Yesus menegaskan bahwa relasi kita dengan Allah dan relasi kita dengan sesama saling terkait erat.

Sebetulnya, Yesus tidak sama sekali melarang kita menghakimi orang lain. Perkataan-Nya, “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi,” menunjukkan hal itu. Secara alamiah, wajar bagi seseorang untuk menghakimi sesuatu sebagai bagian dari penilaian, pendirian, atau penyataan sikap darinya. Yang Yesus kehendaki, kalau kita menghakimi sesama, hendaknya kita melakukan itu dengan penuh belas kasihan. Bagaimana kita memperlakukan orang lain, seperti itulah yang akan dilakukan Bapa terhadap kita. Ini selaras dengan sabda bahagia yang disampaikan Yesus sebelumnya, “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan beroleh belas kasihan” (Mat. 5:7).

Selain itu, sebelum kita menghakimi sesama, mengkritik kekurangan orang lain, serta menegur kesalahan mereka, Yesus mengajak kita untuk melihat diri kita sendiri terlebih dahulu. Perbaikilah diri sendiri sebelum memperbaiki orang lain. Jangan salah, Yesus dengan ini tidak melarang kita untuk melakukan koreksi, sebab apa yang bengkok memang harus diluruskan. Yang dilarang Yesus adalah sikap munafik, di mana kita mengecam kesalahan yang dilakukan orang lain, tetapi kita sendiri juga melakukannya. Jika kita menyuarakan kebenaran, kita sendiri harus bersikap benar. Jika kita menyuarakan keadilan, kita sendiri harus bersikap adil. Jika kita menyuarakan kedisiplinan, kita sendiri harus disiplin. Lakukanlah segala sesuatu yang kita katakan. Jadilah pribadi yang berintegritas!