Yesus: Anak Allah Terkasih yang Harus Didengarkan, Diikuti, dan Ditaati

Kamis, 6 Agustus 2026 – Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

3

Matius 17:1-9

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka tampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

***

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang berubah rupa secara tiba-tiba dan dramatis di depan mata ketiga orang murid-Nya. Tempat Yesus berubah rupa ini secara tradisional diidentifikasi sebagai Gunung Tabor. Namun, yang lebih penting sebenarnya adalah makna simbolisnya, yang umumnya dipahami sebagai tempat perjumpaan antara Yang Ilahi dan manusia. Hal ini mengingatkan kita pada gunung yang menjadi tempat Allah menampakkan diri-Nya kepada Musa dan memberinya dekalog (Kel. 20:1-17; Ul. 5:1-22). Dengan demikian, gunung yang menjadi tempat Yesus berubah rupa dikatakan suci karena menjadi tempat perjumpaan antara Yang ilahi dan manusia.

Perubahan dramatis diperlihatkan lagi ketika jubah Yesus digambarkan menjadi putih berkilauan. Jubah-Nya diubah menjadi pakaian makhluk surgawi. Melalui peristiwa ini, ketiga orang murid Yesus melihat secara sekilas bentuk dan rupa keilahian atau ke-Allah-an Yesus untuk sementara waktu ketika masih berada di bumi. Dengan diubah rupa-Nya menjadi makhluk surgawi, Allah ingin mengungkapkan bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih, yang harus didengarkan, diikuti, dan ditaati.

Petrus yang biasa berperan sebagai pemimpin dan juru bicara para murid menanggapi peristiwa transfigurasi itu dengan mengungkapkan keinginannya untuk tetap berada di gunung dan membangun kemah bagi Musa, Elia, dan Yesus. Ia begitu terpesona dengan kemuliaan surgawi yang diperlihatkan Yesus bersama dengan Musa dan Elia, sehingga kehadiran tokoh-tokoh surgawi di bumi tersebut ingin diperpanjang atau diperlama olehnya dengan mendirikan tiga kemah agar mereka tinggal di dalamnya.

Sebagai jawaban atas keinginan Petrus, awan yang menjadi simbol kehadiran Allah datang dan menaungi mereka. Mereka mendengar suara Allah dari dalam awan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Disampaikan hal yang sama seperti yang kita dengar pada saat pembaptisan Yesus, yakni bahwa Yesus adalah Anak Allah yang terkasih. Pernyataan berlanjut pada perintah untuk mendengarkan-Nya. Cara yang benar untuk melayani Yesus bukanlah dengan berlama-lama di gunung, melainkan dengan mendengarkan dan mengikuti firman-Nya. 

Pengalaman ketiga murid itu berakhir secara tiba-tiba. Ketika mereka memandang sekeliling, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri. Dengan hanya melihat Yesus seorang diri, perintah Allah kepada mereka untuk mendengarkan dikaitkan secara khusus dan langsung dengan diri-Nya. Yesus harus menjadi pusat perhatian kita, dan harus kita dengarkan, ikuti, dan taati. Karena itu, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita sungguh-sungguh telah mendengarkan, memahami, mengikuti, dan menaati pengajaran Yesus sebagai Anak Allah yang terkasih?