Untuk Apa Kita Berpuasa?

Sabtu, 4 Juli 2026 – Hari Biasa Pekan XIII

3

Matius 9:14-17

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”

***

Murid-murid Yohanes bertanya kepada Yesus mengapa mereka dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Nya tidak. Pertanyaan ini boleh kita lihat sebagai pertanyaan yang tulus, alih-alih bermaksud menjebak atau mengkritik Yesus. Para murid Yohanes mungkin merasa heran dan bingung karena tidak pernah melihat para murid Yesus berpuasa. Mereka lebih sering melihat murid-murid Yesus makan-makan dalam berbagai perjamuan.

Yesus menjawab bahwa para murid-Nya pada suatu saat akan berpuasa, yaitu saat mempelai diambil dari antara mereka. Pada waktu itu, saat tersebut belum tiba, sebab tidak mungkin para sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka.

Ada pelbagai motivasi yang mendorong orang berpuasa. Ada yang berpuasa dengan alasan kesehatan: Mereka mengurangi makan dan minum supaya berat badan tidak terus bertambah. Ada yang berpuasa dengan alasan keprihatinan sosial: Mereka berpuasa agar dapat menyisihkan sebagian milik mereka untuk orang-orang yang berkekurangan. Ada juga yang berpuasa dengan alasan spiritual: Mereka berpuasa sebagai silih atas dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Kita ingat bahwa sebelum mulai berkarya, Yesus pun berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam. Puasa ini diartikan sebagai persiapan sebelum menjalankan tugas perutusan di tengah-tengah umat.

Gereja mengajak kita sebagai umat Katolik untuk berpuasa setiap Masa Prapaskah. Mempelai laki-laki sudah diambil dari antara kita, sehingga sudah saatnya kita hidup dalam keprihatinan dengan berpuasa. Namun, puasa kita berbeda dengan yang biasa dijalankan oleh pihak lain. Gereja mengajarkan kepada kita bahwa puasa itu bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Kita berpuasa sebagai silih atas dosa-dosa kita, serta sebagai bentuk solidaritas kita dengan orang-orang yang miskin dan telantar. Untuk itulah kita berpuasa, bukan agar kita dilihat oleh orang lain, bukan pula agar kita dipuji sebagai orang saleh.