
Matius 23:27-32
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!”
***
Saudara-saudari terkasih, hari ini, kita mendengarkan Yesus yang menggunakan gambaran yang sangat keras, “Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalam penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Gambaran ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita bisa begitu sibuk memperbaiki apa yang tampak dari luar: Bagaimana orang melihat kita; bagaimana kita membangun citra diri; bagaimana kita ingin dikenal sebagai orang yang baik, saleh, berhasil, atau bahkan religius. Namun, Yesus mengingatkan: Iman bukan kosmetik.
Kosmetik memoles penampilan luar, tetapi iman seharusnya mengubah hati. Doa, pelayanan, pengetahuan agama, bahkan kesibukan kita di dalam Gereja tidak banyak berarti kalau semuanya hanya menjadi lapisan luar, sementara hati kita tidak sungguh-sungguh berubah. Pada zaman sekarang, tantangan ini menjadi makin nyata. Kita hidup dalam dunia yang memungkinkan kita memilih sendiri apa yang ingin diperlihatkan kepada orang lain. Kita bisa menampilkan versi terbaik dari diri kita. Namun, pertanyaan Yesus membawa kita lebih dalam: Siapakah kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Menjadi autentik bukan berarti kita harus sempurna. Autentik berarti berani membiarkan Tuhan menyentuh bagian-bagian hidup kita yang masih perlu disembuhkan dan diubah. Karena itu, mungkin pertanyaan yang baik untuk kita renungkan hari ini adalah: “Apakah kehidupan yang kita tampilkan sungguh mencerminkan hati kita di hadapan Allah?”
Jangan sampai kita terlalu sibuk membersihkan bagian luar hidup kita, sementara Tuhan sedang menunggu kita membersihkan hati. Yang Tuhan kehendaki bukan manusia yang sekadar tampak baik, melainkan manusia yang sungguh-sungguh hidup baik di hadapan-Nya.










