Kerendahan Hati yang Sejati

Jumat, 2 Januari 2026 – Peringatan Wajib Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius dari Nazianze

14

Yohanes 1:19-28

Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”

Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?” Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian sesudah aku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.”

Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

***

Dalam membangun relasi dengan orang lain, ada masa di mana kita berusaha untuk mengenali pribadi orang itu. Masa pengenalan ini membutuhkan waktu. Durasinya bisa lama, bisa pula singkat. Durasi masa pengenalan ini saya sebut sebagai masa transisi, yakni masa di mana kita melakukan observasi, mencari sumber informasi, dan memutuskan siapakah pribadi yang ingin kita ketahui identitasnya tersebut.

Pada masa transisi di antara Oktaf Natal dan Masa Biasa kali ini, kita diajak untuk bersiap menyambut apa yang akan dihadirkan oleh Yesus dalam hidup kita. Ia datang untuk membebaskan kita dari dosa-dosa, sehingga kita dapat bersatu dengan-Nya. Cara terbaik untuk menyambut misi Tuhan tersebut adalah dengan mengenal siapa Dia, baik identitas-Nya maupun tugas yang Dia emban. 

Inilah yang dilakukan Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini. Misi Yohanes adalah mempersiapkan bangsa Israel untuk menyambut kehadiran dan pelayanan Yesus. Untuk melaksanakan misi tersebut, ia dengan tegas menyatakan identitas sang Mesias. Dalam kesaksiannya ini keagungan sang Mesias tampak dengan jelas, tetapi juga kerendahan hati Yohanes sendiri. Dengan kerendahan hati tersebut, Yohanes mengarahkan perhatian orang-orang bukan pada dirinya sendiri, melainkan kepada sang Mesias.

Bersama Yohanes, kita diajak untuk mengakui kemuliaan Mesias yang tak terhingga. Yohanes menyadari bahwa ia tidak layak bahkan untuk sekadar melepaskan tali sandal sang Mesias, padahal ini merupakan tugas seorang pelayan yang paling rendah. Jika kita memahami siapakah Yesus bagi kehidupan kita, kita pun akan mengakui bahwa kita tidak pantas bahkan untuk menjadi pelayan-Nya yang terendah. Inilah realitas yang harus kita sadari: Di hadapan sang Mesias, kita sesungguhnya tidak berarti apa-apa.

Namun, Yesus ternyata mengasihi kita. Karena kasih-Nya itu, sang Mesias bahkan memilih untuk merendahkan diri-Nya demi kita. Ia membasuh kaki kita, melayani kita, dan menyerahkan hidup-Nya bagi kita agar kita mengalami keselamatan kekal. Ia memikul semua dosa kita dengan menanggung penghukuman di kayu salib.

Mari kita meneladan kerendahan hati Yohanes Pembaptis. Bersama Yohanes, kita akui ketidaklayakan kita di hadapan Tuhan. Inilah kerendahan hati yang sejati, yang akan mempersiapkan kita untuk menerima rahmat ilahi yang telah dimulai dengan peristiwa inkarnasi dan mencapai puncaknya pada saat kenaikan Yesus ke surga.