Pola Hidup Beragama yang Baru

Senin, 19 Januari 2026 – Hari Biasa Pekan II

21

Markus 2:18-22

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”

***

Di samping doa dan sedekah, puasa adalah satu dari tiga keutamaan atau praktik kesalehan dalam agama Yahudi. Salah satu tujuan berpuasa adalah mengungkapkan penyesalan dan kesedihan atas dosa pribadi atau bersama, dan memohon pengampunan dari Allah. Orang Yahudi yang saleh biasanya berpuasa dua kali seminggu. Murid-murid Yesus mungkin hanya menjalankan puasa nasional pada Hari Raya Pendamaian (Im. 16:29-31). Karena itu, orang bertanya, mengapa gaya hidup mereka tidak seradikal murid-murid Yohanes dan orang Farisi?

Yesus menjawab melalui metafora pesta kawin untuk menekankan suasana sukacita Kerajaan Allah yang dihadirkan-Nya. Berpuasa sebagai tanda silih dan sedih (atas dosa dan sebagainya) tidak cocok dengan suasana sukacita yang dihadirkan Yesus. Selama Yesus masih bersama dengan para murid-Nya, mereka tidak perlu bersedih. Kedukaan akan datang saat Ia diambil dari mereka.

Puasa hanyalah salah satu contoh dari praksis beragama yang lama. Selanjutnya, Yesus memakai gaya bahasa kiasan dari dunia kaum ibu (pertenunan) dan kaum bapak (pertanian). Baju yang tua jangan ditambal dengan kain baru yang belum susut, sebab kalau dicuci, kain baru akan menyusut dan mengoyakkan baju tua itu. Anggur baru yang disimpan dalam kantong kulit lama juga akan mengoyakkan kantong itu akibat proses fermentasi.

Dengan ini, Yesus menekankan ajaran-Nya yang baru dan dinamis, berbeda dengan ajaran dan praksis dalam agama Yahudi yang kaku. Keduanya tidak dapat begitu saja digabungkan.  Puasa dilihat sebagai wakil dari semua praktik kesalehan dalam agama Yahudi. Semua praktik keagamaan lama harus dinilai secara baru dan dijalankan dengan tolok ukur yang baru, yaitu tuntutan Kerajaan Allah yang diwartakan dan dihadirkan oleh Yesus. Tuntutan Yesus yang serba baru menuntut pola hidup beragama dan bertingkah laku yang baru. Mudah sekali agama kehilangan dinamika dan kebaruan, sebab kita hanya mengulang-ulang kebiasaan, ajaran, dan ritual yang biasa.