Hormatilah Ayahmu dan Ibumu

Selasa, 10 Februari 2026 – Peringatan Wajib Santa Skolastika

16

Markus 7:1-13

Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban — yaitu persembahan kepada Allah –, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

***

Yesus hari ini mengkritik fanatisme orang Farisi dan ahli Taurat dalam menafsirkan hukum. Salah satu tema yang diangkat adalah perintah Allah yang keempat, yakni hormatilah ayah dan ibumu. Ahli Taurat mengajarkan bahwa anak laki-laki yang mempersembahkan uang dan barang kepada Bait Suci telah melakukan perbuatan baik. Sebagai konsekuensi, orang tuanya tidak lagi dapat meminta atau menggunakan barang-barang tersebut. Dengan ini, orang dididik dengan cara pandang bahwa mereka sudah melaksanakan perintah keempat dengan cara menggunakan uang dan harta bendanya sebagai persembahan kepada Allah dan bukan untuk memelihara orang tuanya.

Yesus mengutip Perjanjian Lama yang dengan tegas mengatakan, “Hormatilah ayahmu dan ibumu.” Perintah keempat ini mengingatkan semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, akan tanggung jawab mereka terhadap orang tua. Kita sebisa mungkin harus membantu orang tua, baik secara moral maupun material, di masa tua mereka, dan ketika mereka menghadapi sakit, kesepian, atau kesedihan. Dengan sangat jelas, kewajiban ini ditunjukkan oleh Yesus.

Rasa hormat dan kesetiaan untuk berbakti kepada orang tua muncul dari rasa syukur atas karunia yang telah mereka berikan kepada kita, yakni hidup kita, serta atas pengorbanan yang telah mereka lakukan agar kita tumbuh dewasa dalam usia, kebijaksanaan, dan rahmat. Mereka sungguh pantas menerimanya. Kitab Sirah menegaskan: “Hormatilah bapamu dengan segenap hati dan jangan melupakan sakit ibumu waktu melahirkan. Ingatlah bahwa engkau lahir dari mereka; bagaimana engkau dapat membalas apa yang mereka buat bagimu?” (Sir. 7:27-28).

Nasihat Yesus hari ini merupakan terang yang jelas bagi hidup kita dalam hubungan kita dengan orang tua kita masing-masing. Marilah kita memohon rahmat kepada Tuhan, agar kita tidak pernah kekurangan kasih sayang sejati kepada orang tua kita, dan agar kita tahu bagaimana menyampaikan kewajiban yang manis ini kepada sesama melalui teladan kita.