Makin Luas Mereka Memberitakannya

Jumat, 13 Februari 2026 – Hari Biasa Pekan V

13

Markus 7:31-37

Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

***

Yesus melakukan perjalanan dari Tirus ke Sidon, dan kemudian ke Dekapolis, di mana Ia menyembuhkan seorang pria yang tuli dan bisu. Karena sebagian besar dihuni oleh orang-orang bukan Yahudi, wilayah itu ditandai dengan penyembahan berhala, budaya Helenis, dan gaya hidup yang sering kali tidak sesuai dengan praktik keagamaan Yahudi. Kemungkinan besar para sahabat Yesus, yakni kedua belas murid-Nya, terkejut dan gelisah selama kunjungan ini, tetapi justru itulah intinya.

Perjalanan mereka ke wilayah ini sendiri merupakan pelajaran yang ingin disampaikan Yesus. Dengan berinteraksi dengan orang-orang bukan Yahudi, Yesus mengungkapkan bahwa keselamatan Allah tidak terbatas pada bangsa Israel, tetapi meluas ke semua bangsa. Ini menggenapi janji yang diberikan kepada Abraham: “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Dengan demikian, Yesus mulai mempersiapkan murid-murid-Nya untuk melepaskan prasangka nasionalistik dan merangkul cakupan universal perjanjian keselamatan Allah.

Penyembuhan orang bisu dan tuli itu memiliki makna yang mendalam. Dengan melakukan mukjizat di wilayah yang mayoritas penduduknya bukan Yahudi, Yesus mengarahkan maknanya melampaui orang Yahudi, kepada semua orang dari setiap bangsa. Pesannya jelas: Dengan menyembuhkan ketulian orang itu, Yesus mengajarkan bahwa semua orang harus mendengar pesan keselamatan Injil. Dengan menyembuhkan gangguan bicara orang itu, Yesus lebih lanjut mengajarkan bahwa semua orang yang mendengar Injil dipanggil untuk memberitakannya.

Sebagai pengikut Kristus, kita harus belajar bukan hanya dari sabda-Nya, melainkan juga dari perbuatan-Nya. Injil tidak hanya ditujukan untuk umat Katolik saja, tetapi juga untuk semua orang. Injil kita wartakan melalui perbuatan kasih dalam lingkungan sosial tempat kita tinggal dan bekerja. Kita harus berusaha melakukannya dengan cara yang dapat dipahami orang. Belas kasihan sejati menuntun kita kepada setiap orang, menjadikan kita instrumen keselamatan mereka. Pesan yang kita bawa adalah untuk semua orang, agar semua keluarga di bumi dapat menemukan berkat di dalam Allah melalui kita.