Kasihanilah Aku

Kamis, 28 Mei 2026 – Hari Biasa Pekan VIII

11

Markus 10:46-52

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

***

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya berjalan keluar dari Yerikho, seorang pengemis buta bernama Bartimeus berteriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang terganggu mendengar teriakan itu, sehingga menyuruh Bartimeus diam. Walaupun begitu, pengemis buta itu tetap berteriak-teriak memanggil Yesus. Yesus ternyata berkenan menjumpai Bartimeus, yang kemudian meminta-Nya untuk menyembuhkan dirinya dari kebutaan. Karena imannya yang teguh dan dirinya yang penuh pengharapan, Bartimeus pun sembuh. Seketika ia dapat melihat, lalu mengikut Yesus dalam perjalanan-Nya menuju ke Yerusalem.

Pada bulan Februari 2026, saya dan suami mengikuti napak tilas perjalanan misi pewartaan Romo Van Lith. Misi Romo Van Lith adalah memperkenalkan agama Katolik di tanah Jawa. Pewartaannya berpusat di Muntilan, Jawa Tengah, sejak tahun 1896. Bersama Komunitas Mlampah Ziarah, saya berjalan kaki dari Muntilan menuju Candi Borobudur, melewati Puncak Majaksingi, Kapel Kerug, Gereja Katolik Paroki Santa Theresia Lisieux Boro, dan berakhir di Gua Maria Sendangsono. Puji Tuhan, perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 34 kilometer ini bisa selesai dengan baik selama kurang lebih 12 jam.

Kunci dari keberhasilan perjalanan ini adalah percaya, berserah, dan berdoa memohon kekuatan kepada-Nya. Ketika harus berjalan melewati tanjakan tinggi dan curam, seperti Bartimeus, saya spontan berteriak dalam doa, “Tuhan, kasihanilah kami.” Entah berapa kali saya memohon bantuan Tuhan sebagai sumber kekuatan. Nyatanya, pertolongan Tuhan bekerja dan menyempurnakan perjalanan saya ini dengan baik.

Mari kita belajar untuk selalu percaya, dan jangan pernah berhenti berteriak meminta pertolongan kepada-Nya melalui doa-doa kita. Tuhan pasti mendengarkan kita, walaupun kita tidak tahu kapan doa-doa kita akan dijawab, dan dalam bentuk apa doa-doa itu akan dikabulkan.