Milik Allah

Selasa, 2 Juni 2026 – Hari Biasa Pekan IX

8

Markus 12:13-17

Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!” Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Mereka sangat heran mendengar Dia.

***

Pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar sebenarnya bukan pertanyaan sederhana, melainkan jebakan untuk menjatuhkan Yesus. Namun, Yesus menjawab dengan bijaksana, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Jawaban ini tidak hanya berbicara tentang kewajiban sosial, tetapi juga menyentuh inti hidup manusia. Koin itu memuat gambar Kaisar, sehingga pantas dikembalikan kepadanya. Namun, manusia diciptakan menurut gambar Allah. Artinya, hidup manusia pada dasarnya berasal dari Allah dan seharusnya kembali kepada-Nya. Di sinilah Yesus mengajak manusia untuk menyadari identitas terdalamnya: Kita bukan milik dunia, melainkan milik Allah.

Sabda ini juga menegaskan bahwa iman tidak membuat pemisahan antara hidup rohani dan hidup sehari-hari. Menjadi pengikut Kristus bukan berarti melarikan diri dari tanggung jawab duniawi. Yesus tidak menolak kewajiban kepada negara atau masyarakat. Sebaliknya, Ia mengajarkan bahwa orang beriman dipanggil untuk hidup jujur, adil, dan bertanggung jawab. Namun, semua itu harus ditempatkan dalam terang yang lebih besar: Di atas segala sesuatu, hidup manusia harus tetap diarahkan kepada Allah. Ketika Allah sungguh menjadi pusat hidup, maka pekerjaan, relasi, dan keputusan sehari-hari akan perlahan-lahan mencerminkan nilai-nilai kasih dan kebenaran.

Sering kali manusia hanya memberi bagian kecil kepada Tuhan, sementara bagian terbesar hidupnya tetap dikuasai oleh keinginan sendiri. Ada doa, ada ibadah, tetapi hati masih dipenuhi ambisi, ego, atau ketakutan. Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk melangkah lebih dalam. Allah meminta hati yang sungguh terbuka kepada-Nya. Memberi kepada Allah berarti membiarkan hidup kita dibentuk oleh kehendak-Nya, dan percaya bahwa hanya di dalam Allah, manusia menemukan arah hidup yang benar.

Dalam dunia modern sekarang ini, manusia mudah terjebak dalam kesibukan, pencapaian, dan keinginan untuk diakui. Nilai hidup sering diukur dari uang, jabatan, atau keberhasilan lahiriah. Tanpa disadari, hati kita menjadi milik dunia, bukan milik Allah. Karena itu, sabda Yesus hari ini menjadi panggilan bagi kita untuk menata kembali prioritas hidup. Tuhan bukanlah tambahan di sela-sela kesibukan, melainkan pusat yang memberi makna bagi seluruh hidup kita. Kalau kita kehilangan arah rohani, kita mudah merasa kosong meskipun memiliki banyak hal. Namun, ketika hidup kita kembali diarahkan kepada Allah, hati kita akan menemukan damai yang tidak bisa diberikan oleh dunia.

Pada akhirnya, sabda Yesus mengingatkan kita bahwa hidup yang diserahkan kepada Allah bukanlah hidup yang kehilangan kebebasan, melainkan hidup yang menemukan makna sejatinya. Ketika sadar bahwa kita adalah gambar Allah, kita akan mulai melihat diri kita dan sesama dengan cara yang berbeda. Dari sana akan lahir hidup yang lebih damai, lebih tulus dalam mengasihi, dan lebih setia dalam menjalani panggilan hidup sehari-hari. Sebab, memberi kepada Allah bukan berarti kehilangan sesuatu, melainkan menemukan kembali siapa diri kita sebenarnya di hadapan-Nya.