Mengenal Kristus

Jumat, 5 Juni 2026 – Peringatan Wajib Santo Bonifasius

11

Markus 12:35-37

Pada suatu kali ketika Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berkata: “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.

***

Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang mengguncang cara berpikir orang banyak: Bagaimana mungkin Mesias disebut sebagai anak Daud, tetapi disebut Tuan oleh Daud sendiri? Pertanyaan ini bukan sekadar soal pengetahuan Kitab Suci, melainkan undangan untuk melihat lebih dalam siapa Yesus sebenarnya. Banyak orang pada masa itu menantikan Mesias sebagai pemimpin politik atau tokoh duniawi yang akan membawa kejayaan bangsa. Namun, Yesus menunjukkan bahwa Mesias jauh lebih besar daripada harapan manusia. Ia tidak hanya keturunan Daud menurut daging, tetapi juga Tuhan yang hidup, sumber keselamatan bagi manusia.

Iman tidak boleh berhenti pada pengenalan yang dangkal. Mudah bagi seseorang untuk mengenal Yesus hanya sebagai tokoh sejarah, guru moral, atau simbol agama. Namun, bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk masuk lebih dalam: Siapakah Kristus bagi kita? Apakah Ia hanya dikenal lewat ajaran agama dan pengetahuan? Sungguh Dia menjadi pusat hidup kita? Pertanyaan ini penting karena cara seseorang mengenal Kristus akan menentukan arah hidupnya. Jika Yesus hanya dipandang sebagai bagian kecil dari hidup, maka iman pun akan mudah menjadi formalitas tanpa daya untuk mengubah hati.

Yesus tidak memaksa orang untuk langsung memahami semuanya. Ia mengajak orang banyak untuk berpikir, merenung, dan membuka hati terhadap misteri-Nya. Iman bukanlah soal menerima jawaban yang siap pakai, melainkan perjalanan untuk semakin mengenal dan mengasihi Tuhan. Dalam perjalanan itu, orang perlahan-lahan belajar melihat bahwa Kristus tidak hanya hadir di gereja atau dalam doa, tetapi juga menyertai kehidupan sehari-hari: Dalam perjuangan, kegagalan, pengharapan, dan relasi dengan sesama. Ketika Kristus mulai dikenal secara pribadi, iman tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, tetapi menjadi sumber kekuatan dan arah hidup.

Kesaksian St. Bonifasius menunjukkan bagaimana pengenalan yang mendalam akan Kristus mampu mengubah hidup seseorang. St. Bonifasius tidak hanya memahami ajaran iman secara intelektual. Ia juga menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan. Ia meninggalkan kenyamanan, menghadapi penolakan, dan tetap setia mewartakan Injil meskipun harus mempertaruhkan nyawa. Kesetiaan itu lahir karena baginya Kristus bukan sekadar tokoh yang dihormati, melainkan Tuhan yang layak diikuti sepenuhnya. Dari hidup St. Bonifasius tampak bahwa mengenal Kristus berarti berani hidup bagi-Nya dan menjadi saksi kasih-Nya di tengah dunia.

Siapakah Kristus bagi hidupku? Jawaban atas pertanyaan itu tidak terutama terlihat dalam kata-kata, tetapi dalam cara hidup sehari-hari. Ketika seseorang sungguh mengenal Kristus, hidupnya perlahan-lahan akan berubah: Lebih setia dalam doa, lebih sabar dalam menghadapi sesama, lebih jujur dalam pekerjaan, dan lebih berani mengampuni. Mengenal Kristus juga berarti berani menjadi saksi-Nya melalui tindakan-tindakan sederhana, misalnya membawa damai di tengah pertengkaran, menolong tanpa pamrih, dan tetap setia pada kebenaran meskipun sulit. Di sanalah iman menemukan maknanya yang sejati: Tidak hanya mengetahui tentang Kristus, tetapi juga hidup bersama Dia yang adalah Tuhan.