Memikul Salib dan Menyangkal Diri

Jumat, 7 Agustus 2026 – Hari Biasa Pekan XVIII

4

Matius 16:24-28

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”

***

Yesus hari ini berkata kepada para murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Dia juga memperingatkan para murid bahwa barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Dia, ia akan memperolehnya. Apa artinya memikul salib? Ungkapan “memikul salib” tidak berarti menanggung segala penderitaan yang datang dalam hidup, tetapi merujuk secara khusus pada kesediaan untuk menanggung konsekuensi sebagai akibat dari memberitakan dan menghidupi Injil.

Demikian pula ajaran tentang penyangkalan diri. Itu bukanlah sekadar penyangkalan diri dalam arti memilih untuk melepaskan kesenangan-kesenangan tertentu, melainkan memilih untuk tidak mementingkan diri sendiri, tidak menjadikan diri sebagai pusat segala sesuatu, dan menyerahkan diri kepada Kristus sebagai hamba-Nya. Seorang yang sungguh-sungguh ingin berjalan mengikut Yesus sebagai murid-Nya harus mengabaikan dan menyingkirkan kepentingan pribadi. Dengan kata lain, dia harus mengatakan “tidak” pada diri sendiri dan kepentingannya supaya bisa mengatakan “ya” kepada Allah dan kehendak-Nya.

Sikap dan tindakan yang dilandasi dan didorong oleh kepentingan pribadi harus dikesampingkan. Fokus perhatian tidak lagi pada keinginan dan kepentingan diri sendiri, tetapi pada keinginan dan kehendak Allah sebagai norma dan tujuan tertinggi dalam hidup. Inilah jalan yang sesungguhnya menuntun kepada kehidupan. Mereka yang mencari dan ingin mempertahankan hidupnya pada akhirnya tetap harus melepaskannya. Kenyataannya, keinginan untuk mempertahankan hidup saat ini justru akan menimbulkan efek sebaliknya pada hari kiamat, sebab orang justru akan kehilangan hidupnya saat itu. Barang siapa kehilangan hidupnya demi Yesus, ia akan diselamatkan. Kedatangan Anak Manusia yang akan segera terjadi menegaskan bahwa pilihan untuk mengikut Yesus atau tidak memiliki konsekuensi kekal.

Apakah kita bersedia menyangkal diri, memikul salib kita, dan mengikut Yesus? Hidup biasanya menghadirkan berbagai macam bentuk salib, baik itu penyakit, masalah keuangan, kesulitan keluarga, depresi, pengangguran, dan lain sebagainya. Kita tidak pernah mudah untuk menerimanya. Namun, ketika kita memikul salib, Yesus ada bersama kita. Dia akan membantu kita dalam memikulnya. Yesus juga akan menganugerahi kita penghiburan, kedamaian, dan kekuatan saat kita menerima salib kita.