Menghadirkan Kerajaan Allah di Indonesia

Rabu, 19 Agustus 2026 – Hari Biasa Pekan XX

31

Matius 20:1-16a

“Adapun hal Kerajaan Surga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

***

Sekelompok buruh dipekerjakan oleh seorang majikan sejak pagi-pagi sekali. Mereka diminta bekerja seharian di kebun anggur dengan upah satu dinar. Hari kerja biasa pada masa itu dimulai sekitar pukul enam pagi dan berakhir pukul enam sore. Pada hari yang sama, majikan itu pergi ke pasar sekitar jam sembilan untuk mencari tambahan pekerja lagi. Demikian ia lakukan lagi pada pukul dua belas, pukul tiga petang, dan pukul lima petang.

Kemudian, ia membayar setiap kelompok. Dari yang paling akhir bekerja sampai yang paling awal ternyata menerima gaji yang sama besar. Sontak kelompok yang paling awal bekerja menggerutu, sebab mereka bekerja paling lama, namun mendapat upah yang sama. Menghadapi gerutuan itu, sang majikan menegaskan bahwa ia berhak menunjukkan kemurahan hati kepada siapa pun yang ia kehendaki.

Yesus menyampaikan perumpamaan ini untuk menjelaskan tentang logika Kerajaan Surga. Kerajaan Surga tidak berjalan berdasarkan sistem berbasis prestasi. Hal itu terjadi karena kasih karunia Allah kepada mereka yang datang kepada-Nya melalui Yesus tidak didasarkan pada kapan mereka datang. Lebih penting lagi, mereka mendapatkan persis apa yang dijanjikan.

Pada hari terpilihnya sebagai paus tanggal 19 April 2005, Paus Benediktus XVI atau Kardinal Joseph Ratzinger memperkenalkan dirinya dari balkon Basilika Santo Petrus dengan kata-kata: “Saudara-saudari terkasih, setelah Paus Yohanes Paulus II yang agung, para kardinal telah memilih saya, seorang pekerja sederhana dan rendah hati di kebun anggur Tuhan.” Bapa Suci lalu menjelaskan bahwa mata uang dinar melambangkan hidup kekal, sebuah karunia yang Allah sediakan untuk semua orang. Ketika para pekerja itu dipanggil atau diminta bekerja, hal ini sudah merupakan pahala. “Bekerja di kebun anggur Tuhan, menempatkan diri untuk melayani-Nya, berkolaborasi dalam pekerjaan-Nya, itu sendiri merupakan pahala yang tak ternilai yang membalas setiap usaha.” Namun, hanya mereka yang mengasihi Tuhan dan Kerajaan-Nya yang memahami hal ini. Mereka yang hanya bekerja demi upah tidak akan pernah menyadari nilai dari harta yang tak ternilai ini.

Kisah perjuangan Romo Y.B. Mangunwijaya adalah wujud nyata menjadi pekerja di kebun Tuhan dan sekaligus menghadirkan Kerajaan-Nya. Saat itu, pemerintah hendak menggusur permukiman warga miskin di sepanjang bantaran Kali Code karena dianggap sebagai tempat kumuh dan sumber kejahatan. Tidak tinggal diam, Romo Mangun memilih untuk tinggal di gubuk kumuh bersama warga Kali Code. Ketika rencana penggusuran makin kuat pada tahun 1986, Romo Mangun melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk solidaritas dan protes secara damai. Langkah ini menyita perhatian publik hingga penggusuran akhirnya dibatalkan.

Romo Mangun lalu mendesain ulang pemukiman Kali Code menggunakan bahan lokal yang murah seperti bambu dan kayu. Ia mengubah kawasan yang tadinya dicap kumuh menjadi permukiman yang asri, manusiawi, dan indah. Karya ini bahkan meraih penghargaan arsitektur bergengsi Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1992. Di sinilah Romo Mangun menjadikan hidupnya terjun di tengah dunia. Ia menyadari sepenuhnya sebagai pekerja di ladang Tuhan. Lewat hunian di Kali Code yang ia bangun, ia secara nyata menghadirkan Kerajaan Allah di tengah masyarakat.