Untuk Allah dan untuk Bangsa

Senin, 17 Agustus 2026 – Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia

5

Matius 22:15-21

Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka: “Gambar dan tulisan kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

***

Orang-orang Farisi sudah bersiap untuk mengakhiri hubungan dengan Yesus. Karena itu, mereka berencana menjerumuskan Dia. Mereka bermaksud menjebak Yesus agar mengatakan sesuatu yang bisa membuat-Nya ditangkap karena dipandang memberontak terhadap Roma. Awalnya, beberapa murid orang Farisi dan orang-orang Herodian menyanjung Yesus. Namun, mereka kemudian menanyakan: Apakah membayar pajak kepada kaisar, yang berarti kepada Kekaisaran Romawi, dapat dibenarkan menurut hukum Taurat?

Yesus tahu persis apa yang coba mereka lakukan, sehingga menyebut orang-orang itu munafik. Ia kemudian memegang koin Romawi, dan bertanya gambar siapa yang ada di atas koin itu. Yesus lalu mengatakan kepada orang-orang itu untuk memberikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah. Perkataan Yesus ini menegaskan gagasan tentang citra Allah (Kej. 1:27), di mana kita harus memberikan seluruh diri kita kepada-Nya.

Menerawang ke dalam konteks zaman itu, Yesus tentu tahu situasi bangsanya yang berada di bawah penjajahan Romawi. Karena itu, pemberian untuk kaisar yang dimaksudkan Yesus dapat dimaknai sebagai sumbangan untuk bangsa atau masyarakat. Dengan latar ini, pesan Yesus untuk memberi diri kepada Allah dan bangsa rupanya adalah panggilan yang seharusnya dijalankan oleh setiap orang. Ini berarti bahwa hidup sebagai orang beriman seharusnya selaras dengan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.

Sebelum keberangkatannya ke Laut Aru, Komodor Yosaphat Sudarso berpesan kepada istrinya, “Jaga anak baik-baik.” Sang istri lalu menyuruh Rijono, anak mereka yang paling besar, untuk mencium ayahnya. Tak disangka, itu adalah ciuman yang terakhir.

Seorang rekan perwira lain merasa ditinggali isyarat. Menjelang keberangkatan itu, Yos Sudarso datang ke rumahnya. Satu jam lamanya sang komodor duduk diam, memperhatikan anak-anak perwira itu yang berjumlah sepuluh orang. Awalnya, ia hendak mengajak perwira itu untuk menyertai perjalanannya. Setelah dilihatnya begitu banyak anak tanggungannya, dia tak sampai hati. Tanpa berkata apa-apa, dia pun lalu minta diri.

Yos Sudarso pun berangkat menjalankan misi di Laut Aru. Ia menjalankan tugasnya dan gugur. Yos Sudarso mengerti apa arti memberi diri kepada negara. Ia bahkan memberikan seluruh hidupnya, memberikan nyawanya. Pengorbanan Yos Sudarso ini menjadi wujud cintanya kepada Allah dan bangsa Indonesia.

Santo Yosaphat yang menjadi pelindungnya nyatanya memberi teladan ini. Sebagai seorang uskup agung Polotsk yang menginisiasi reformasi masyarakat dan umat pada awal abad ke-17, usahanya memajukan persatuan memicu gejolak politik. Di sinilah, ia harus gugur karena membela kesatuan Gereja pada tanggal 12 November 1623.

Selaras dengan pesan Yesus, setiap orang dipanggil untuk memberi diri bagi Allah dan demi kebaikan sesama dan masyarakat. Pahlawan-pahlawan seperti Yos Sudarso, juga martir seperti Santo Yosaphat, memaknai panggilan ini dengan sepenuh jiwa raga, bahkan dengan pengorbanan nyawa mereka. Teladan iman yang ditunjukkan Yos Sudarso menjadi teman refleksi kita yang hari ini memperingati kemerdekaan Indonesia. Beriman berarti juga menjadi bagian sepenuhnya dari bangsa kita.